in

Energi Terbarukan Masa Depan Indonesia

Herman: Cadangan Energi Fosil Menipis 

Energi terbarukan merupakan sumber energi masa depan. Pasalnya, cadangan energi fosil semakin menipis. Jika negara berkembang seperti Indonesia tidak siap dalam menyusun strategi mengatasi menipisnya energi fosil itu, maka akan berdampak buruk terhadap ketahanan nasional di masa datang.

Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (Meti) Herman Darnel Ibrahim saat menjadi pembicara seminar nasional bertema “Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Energi Berkelanjutan untuk Ketahanan Nasional” yang diadakan Universitas Andalas bekerja sama dengan Purnomo Yusgiantoro Center di Convention Hall Unand, Padang, Jumat (7/7).

Herman Darnel Ibrahim dalam paparannya menyebutkan energi fosil sejauh ini pasokannya 92 persen dari sumber energi dunia. Hanya 8 persen yang berasal dari energi terbarukan. “Artinya selama ini, masyarakat dunia selalu mengeksploitasi dan memanfaatkan energi fosil, itu membuat cadangan energi fosil dunia semakin menipis,” terangnya.

Herman berharap pemerintah dapat memfasilitasi untuk membuat regulasi yang jelas agar tidak terjadi timpang tindih ke depan. “Kita sadar pengembangan energi terbarukan secara cepat, terkendala karena memakan biaya yang tidak sedikit untuk mengeksplorasinya, karena energi terbarukan tidak dapat diangkut, harus diproduksi di mana sumber energi terbarukan itu berada.

Dampaknya biaya yang kita butuhkan cukup besar untuk membangun fasilitas, berbeda dengan energi fosil seperti batubara dan minyak,” sebutnya.

Dijelaskan Herman, dalam lima tahun mendatang energi fosil akan mangalami lonjakan harga yang sangat signifikan akibat cadangan semakin menipis. Begitu pula dengan energi nuklir yang menghabiskan dana hingga ratusan bahkan ribuan triliun. 

“Untuk biaya investasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sangat besar, untuk seribu mega watt membutuhkan dana Rp 500 triliun. Dengan dana sebesar itu tidak ada swasta yang bisa mendanai di Indonesia,” bebernya.

Kenapa energi nuklir menjadi sumber energi terakhir setelah energi fosil dan energi terbarukan? Menurut Herman, karena dampak energi nuklir jika terjadi bencana sangat mengerikan bagi makhluk hidup. 

“Jika pembuatan PLTN dipaksakan di Indonesia akan berdampak buruk bagi lingkungan karena letak geografis Indonesia yang berada di jalur rawan bencana. Nuklir itu bisa menghancurkan Indonesia, seperti yang pernah terjadi di Fukushima Jepang beberapa tahun silam, dan di negara lain seperti Swiss, Jerman dan Korsel yang sudah sepakat tidak mendirikan PLTN,” katanya.

Hadir pada seminar yang diikuti sekitar 200 pelaku usaha energi dan industri, dosen dan mahasiswa itu, mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Purnomo Yusgiantoro, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dwi Hary Soeryadi, Kepala Balitbang Kementerian ESDM RI FX Sutijastoto, dan dosen Universitas Pertahanan Yanif Dwi Kuncoro.

Purnomo dalam paparannya berharap perguruan tinggi mulai melakukan riset energi terbarukan di setiap daerah dalam skala kecil. “Yang penting itu, mau memulai riset energi terbarukan karena Sumbar memiliki potensi geothermal, dimulai dengan riset secara kecil saja dulu, tak usah berpikir banyak,” harapnya.

Menurutnya, ketahanan nasional erat kaitannya dengan geopolitik dan geostrategi. Ketahanan Nasional baik itu ketahanan pangan, perekonomian, teknologi dan sosial budaya akan bermuara pada ketahanan energi, modal dasar bangsa ini, yakni letak geografis karena memiliki potensi energi terbarukan disetiap daerah. “Tinggal, bagaimana kita mengelolanya secara cepat dan tepat,” imbuhnya.

Sementara itu, FX Sutijastoto mengungkapkan Unand dan Balintang Kementerian ESDM RI telah melakukan beberapa kerja sama dalam menggali potensi energi terbarukan di Sumbar. “Kita sadar negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi tanpa dibarengi pertumbuhan energi, akan membuat perekonomiannya hancur berantakan seperti terjadi di India,” sebutnya.

Pemakaian energi di negara berkembang sangat luar biasa. Jika tidak bisa mengontrol, negara kita tidak akan bisa berubah menjadi negara maju. “Semua aspek harus diperhatikan secara seksama. Jika negara kita siap, semuanya akan berdampak pada ketahanan pangan, air dan energi di tahun 2045,” sebutnya.

Di sisi lain, Yanif Dwi kuncoro menyebutkan, sifat ketahanan nasional itu dinamis. Jika tidak diawasi dan didorong kontiniu, semua yang telah dirancang tak akan terlaksana bahkan bisa terkesan mundur. “Pengawasan sangat diperlukan dalam menjaga potensi energi terbarukan yang telah ditemukan. Pengawasan juga harus didorong pemerintah untuk merangkul stakeholder untuk mencari potensi baru dan dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat,” sebutnya.

Sedangkan Dwi Hary Soeryadi menargetkan energi terbarukan sebagai energi yang akan menyelamatkan ketahanan nasional Indonesia, sehingga dia meminta berbagai pihak ikut berperan dalam menggarapnya. 

“Energi nuklir hanya sebagai pilihan alternatif bagi negara kita, mengingat letak geografis negara kita sangat rawan bencana sehingga potensi energi terbarukan harus dimaksimalkan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unand Prof Dachriyanus mengapresiasi terselenggaranya seminar nasional dan berharap apa yang dipaparkan pemateri bermanfaat dan membuka wawasan pentingnya energi terbarukan. (*) 

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

DPD RI Setuju Ibu Kota Negara Pindah

Dewan Dakwah Aceh Komitmen Kawal Syariat Islam