in

ILO gelar lomba lari virtual gaungkan gerakan hapus pekerja anak

Jakarta (ANTARA) – Organisasi buruh dunia (ILO) bekerja sama dengan perusahaan penyelenggara lomba lari virtual menggelar virtual race bertajuk “End Child Labour: Virtual Race 2021” dalam rangka menggaungkan gerakan penghapusan pekerja anak.

Pekerja anak atau eksploitasi anak masih menjadi salah satu persoalan dunia yang tak kunjung tuntas. Dalam catatan ILO saat ini ada 160 juta pekerja anak di seluruh dunia.

Lomba lari dan bersepeda virtual itu akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan mulai 12 Juni hingga 12 Juli 2021. Periode pendaftaran peserta dimulai pada hari ini, Sabtu 12 Juni, hingga 4 Juli 2021 mendatang.

Acara tersebut menandai peringatan Tahun Internasional Penghapusan Pekerja Anak 2021 dan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang jatuh pada 12 Juni.

“Tidak ada tempat bagi pekerja anak dalam masyarakat,” ujar Direktur ILO untuk Indonesia Michiko Miyamoto dalam keterangan tertulis, Sabtu.

“Ini merampas masa depan anak-anak dan menempatkan keluarga mereka dalam kemiskinan. ILO telah berupaya menghapus pekerja anak sepanjang 100 tahun sejarah berdirinya, dan Tahun Internasional ini menjadi peluang bagi semua pihak untuk semakin meningkatkan upaya mencapai sasaran 8,7 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui aksi nyata penghapusan pekerja anak untuk selamanya,” tambah dia. 

Baca juga: Ajang lari berkonsep “hybrid” di Indonesia siap digelar Oktober 

Kegiatan olahraga yang mengusung pesan moral penghapusan pekerja anak di Indonesia dan dunia itu resmi dibuka oleh Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah secara virtual, Sabtu.

Acara tersebut juga menandai dimulainya End Child Labour Virtual Race 2021 yang mengusung tema: Bertindak Sekarang, Hapus Pekerja Anak.

Dalam sambutannya, Ida Fauziyah menegaskan pemerintah berkomitmen dan mendukung penuh kampanye penghapusan pekerja anak.

Sementara itu, CEO dan Co-founder Cause Indonesia Enrico Hugo mengatakan “End Child Labour: Virtual Race 2021” merupakan ajang yang bertujuan mengajak masyarakat agar aktif berolahraga sekaligus mendukung gerakan sosial menghapus pekerja anak.

“Dengan format penyelenggaraan secara virtual, maka akan membuat masyarakat leluasa mengikuti event ini di manapun dan kapanpun,” kata Enrico.

“Jadi, di masa pandemi COVID-19 ini masyarakat dapat tetap aktif dan pada saay yang bersamaan juga mendukung gerakan sosial untuk menghapuskan pekerja anak serta memastikan hak pendidikan bagi semua anak,” tuturnya. 

Enrico telah bekerja sama dengan ILO sebelumnya untuk mempromosikan pekerjaan yang layak untuk semua. Ia pun menargetkan ajang virtual tersebut akan diikuti lebih dari 5.000 pelari dan pesepeda di seluruh Indonesia. 

Baca juga: Unpad Manglayang Trail Running 2021 targetkan 1.000 peserta 

Para peserta diharapkan untuk menyelesaikan masing-masing 12,6 dan 25 kilometer dalam waktu dua pekan dengan menyerahkan data lari atau bersepeda mereka melalui sejumlah aplikasi.

“Proses aktivasi bagi peserta untuk menyerahkan data lari atau bersepeda mereka melalui sejumlah aplikasi dimulai pada 21 Juni hingga 4 Juli 2021,” terang Enrico.

Melalui gerakan virtual tersebut, sambung dia, para peserta akan memperlihatkan dukungan mereka terhadap penghapusan pekerja anak dengan menandatangani petisi untuk mengakhiri pekerja anak dan mempromosikan pendidikan demi masa depan yang lebih baik bagi semua anak Indonesia.

Petisi itu selanjutnya akan diserahkan kepada Kementerian Ketenagakerjaan guna mendukung upaya yang dilakukan untuk mencapai masa depan tanpa pekerja anak di Indonesia.

Cause Indonesia juga telah menyiapkan hadiah spesial untuk 100 pemenang dalam lomba lari dan bersepeda virtual tersebut, yakni berupa medali dan jersey dengan desain dan slogan menghapus pekerja anak. Pemenang ditentukan berdasarkan jarak terjauh yang ditempuh selama lomba itu berlangsung. 

Baca juga: Alumni Teknik Kimia ITB sosialisasi industri kimia hijau lewat lari
Baca juga: Unpad MTR 2021 diharapkan dongkrak ekonomi masyarakat lokal 
​​​​​​​

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Rr. Cornea Khairany
COPYRIGHT © ANTARA 2021

What do you think?

Written by Julliana Elora

Sinetron “Tersanjung” dibuat ulang, dikemas untuk anak muda

Sekolah-sekolah di Jepang mundur dari program penonton Olimpiade