Ini kata dokter ahli terkait mitos dan fakta TBC
Jumat, 27 Maret 2026 08:58 WIB
Jakarta (ANTARA) – Dokter ahli penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainal Umar Sidiki Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, dr Ferdiyanto Dayi SpPD FINASIM mengimbau warga untuk segera memeriksakan dahak jika mengalami batuk tak kunjung sembuh dalam waktu lebih dari dua minggu.
Menurutnya di Gorontalo, Kamis secara garis besar angka penderita Tuberkulosis (TB) di Indonesia, cukup tinggi.
Saat ini Indonesia berada di peringkat ke dua negara di dunia dengan beban TBC paling banyak, atau hampir ada satu juta kasus dengan perkiraan kasus TB nasional mencapai 387/100.000 penduduk.
Jika melihat jumlah penduduk di Gorontalo Utara yang mencapai 131.000 lebih jiwa, maka perkiraan penderita TB di Wilayah pesisir ini mencapai 507 jiwa.
Sayangnya kata Ferdiyanto, yang ditemukan di tahun 2025 baru mencapai 470 kasus.
Kondisi tersebut saja telah dilakukan segala upaya oleh dinas kesehatan setempat, melalui seluruh puskesmas untuk turun melacak kontak pasien.
“Masih ada cukup banyak yang belum ditemukan. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk segera mengecek dahak jika batuk lebih dari dua minggu, sangat penting. Jika mengalami kondisi tersebut, agar tidak takut atau malu memeriksakan diri,” katanya.
Pihaknya terus mengampanyekan pentingnya kesadaran masyarakat memeriksakan kesehatan, termasuk mengenai stigma tentang TB.
Masyarakat pun diajak untuk mendukung pasien TB agar mau berobat termasuk memberi dukungan kepada anggota keluarga atau orang terdekat yang punya keluhan batuk lebih dari dua minggu, untuk segera mengecek dahak di puskesmas.
Saat ini, lanjutnya, sudah ada obat pencegahan tuberkulosis yang bisa diminum oleh keluarga pasien yang positif TBC.
Ia memastikan, sejauh ini penanganan kasus TBC di wilayah pesisir tersebut cukup baik, sebab ketika ada kasus maka petugas puskesmas langsung turun melacak kontak serumah, termasuk melakukan sosialisasi cek dahak dan penanganan penting lainnya.
Ia memastikan TBC muncul bukan karena minum es ataupun keseringan mandi malam.
“Itu adalah mitos,” tukasnya.
TBC adalah infeksi bakteri yang ditularkan dari penderita TBC melalui droplet atau partikel sangat kecil yang dipancarkan ke udara saat batuk atau bersin, kemudian dihirup oleh orang yang ada di sekitar.
“Satu pasien TBC dapat menularkan infeksinya sampai ke 10 hingga 15 orang. Namun tidak semua akan sakit TBC kalau daya tahan tubuhnya bagus,” katanya pula.
Jika dalam satu keluarga ada penderita TBC maka sangat dianjurkan bagi yang sakit untuk minum obat, sementara anggota keluarga lainnya mendapatkan terapi pencegahan TBC.
Tentu jenis obat dan dosis nya tidak sama persis, namun semua diberikan pemerintah secara gratis.
Termasuk di RSUD Zainal Umar Sidiki, seluruh obat dari Kementerian Kesehatan diberikan gratis, lengkap dengan peralatan ada dua mesin yaitu berbasis PCR untuk tes cepat TBC.
“Masyarakat sangat penting memiliki pemahaman bahwa penyakit TB pasti bisa sembuh, asalkan rajin minum obat atau berobat dengan tepat di fasilitas kesehatan, serta keluarga tidak meninggalkan pasien berjuang sendirian. Apalagi TB bisa dicegah dengan terapi pencegahan,” katanya.
Seluruh pihak pesan Ferdiyanto, baik pemerintah, masyarakat, keluarga dekat dan tenaga kesehatan diharapkan kompak bekerjasama memberantas kasus TB khususnya di daerah ini, sebab obat dan peralatan lengkap tersedia Mitos dan Fakta TBC: Penjelasan Dokter Ahli Penyakit Dalam RSUD Gorontalo Utara
Pewarta: Susanti Sako
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026