in

Kultur Sekolah Untuk Good School

Dra. Anitra Wahyu Nor Harlina
(GURU UPT SMPN 3 BATUSANGKAR)

Perubahan yang pesat di era industri dan teknologi, menjadikan sekolah pun harus mampu melakukan perubahan penataan, termasuk antisipasi dampaknya dalam menyiapkan generasi muda untuk mengarungi kehidupannya di masa yang akan datang.

Pembelajaran di kelas-kelas, merupakan proses pemanusiaan dan menyiapkan manusia untuk menghadapi tantangan hidup. Tanpa bermaksud mengecilkan upaya peningkatan kualitas pendidikan yang telah dilakukan, namun dalam kenyataannya memang banyak pembenahan yang harus dilakukan.

Terutama upaya peningkatan kualitas sekolah misalnya, sekurangnya ada lima aspek pokok yang perlu diperhatikan, yaitu proses belajar mengajar, kepemimpinan sekolah, manajemen sekolah, sarana dan prasaranam dan kultur sekolah.

Proses belajar mengajar, kepemimpinan sekolah, sudah rutin menjadi menjadi fokus berbagai pihak yang peduli pada peningkatan kualitas pendidikan, bagaimana dengan kultur sekolah?, hal yang perlu menjadi perenungan bersama.

Belum banyak diangkat sebagai salah satu faktor yang menentukan, termasuk dalam upaya peningkatan kualitas sekolah dalam pengembangan good school atau sekolah efektif. Menjemput konsep tentang good school atau effective school dari Mortimore (one in which students progress further than might be expected from a consideration of intake).

Quote sederhana yang tak sesederhana maksudnya. Konsep tersebut merujuk tentang tugas penting sekolah. Sekolah bukan hanya tempat mengasah berkembangnya potensi akademik, namun juga menjaga agar semua siswa dapat berkembang sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah.

Perbedaan good school atau effective school dengan sekolah yang tidak adalah, pada sekolah efektif, semua siswa dijamin dapat berkembang. Selanjutnya pada sekolah yang tidak efektif hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar (fast learners) yang dapat berkembang.

Pada sekolah efektif visi dan misi dipahami bersama oleh komunitas sekolah. Kondisi ini terlihat dengan adanya sistem nilai dan keyakinan yang saling dimengerti oleh komunitas sekolah, adanya tujuan sekolah yang jelas, kepemimpinan instruksional. Iklim kondisi belajar yang kondusif di sekolah.

Wujudnya adalah keterlibatan dan tanggung jawab siswa, lingkungan fisik yang mendukung; perilaku siswa yang positif, dukungan keluarga dan masyarakat terhadap sekolah.

Fokus belajar dilakukan dengan pengembangan kurikulum dan instruksional yang sejalan dengan visi sekolah, pengembangan dan kolegialitas para guru, harapan yang tinggi dari komunitas sekolah, pemantauan yang berulang-ulang terhadap kemajuan belajar siswa.

Dari sisi proses belajar pada sekolah effektif akan terlihat siswa aktif, dilakukan berdasarkan adanya perbedaan individual di antara para peserta didik, dipengaruhi oleh berbagai konteks . Jika kondisi diatas telah terpenuhi, maka bagaimana dengan kultur sekolah?

Kultur sekolah adalah “a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thinking and behaving”. Kultur sekolah merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya.

Pada kultur sekolah melekat beberapa unsur penting, Letak, lingkungan, dan prasarana fisik, Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan, Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah, Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

Sekolah semestinya dalam kapasitas tertentu dapat mengambil alih fungsi-fungsi transmisi nilai dalam keluarga dan masyarakat. Meski sejatinya fungsi tersebut tidak seluruhnya dapat dibebankan kepada sekolah.

Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada siswanya. Sekolah adalah institusi yang memeiliki kekuatan sebagai transmisi nilai-nilai. Namun, untuk mewujudkannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain.

Kultur sekolah yang baik selalu diwarnai dengan kegiatan-kegiatan kerjasama dalam mencapai prestasi oleh warga sekolah dan stakeholdernya, adanya terhadap yang berprestasi dalam berbagai bentuk, komitmen terhadap belajar yang dimiliki Guru dan siswa, interaksi antar warga sekolah yang hangat, harmonis, humanis.

Sebaliknya kultur sekolah yang negatif akan mewujudkan pada kondisi siswa takut berbuat salah, diancam, dihukum, diejek, siswa takut bertanya ataupun mengemukakan pendapat karena malu, tidak diberi kesempatan, takut dicemooh, takut pada guru, siswa jarang melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah karena tidak dibiasakan oleh guru, atau dianggap tidak penting.

Tiap-tiap sekolah mempunyai kebudayaannya sendiri yang bersifat unik. Kebudayaan sekolah memiliki pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa. Layaknya ungkapan “children learn not was is taught, but what is caught”.

Apa yang dihayati oleh siswa itu (sikap dalam belajar, sikap terhadap kewibawaan, sikap terhadap nilai-nilai) bukan berasal dari kurikulum sekolah. Lebih ditekankan dari kebudayaan sekolah yang dijadikan pilihan tempat belajarnya.

Meski good school masih menjadi tantangan yang berat bagi satuan pendidikan, namun sentuhan pendidikan yang mampu menawarkan transfer of learning, transfer of training, dan transfer of principles secara efektif, harus di wujudkan.

Konsekuensinya satuan pendidikan memang perlu membangun budaya sekolah yang efektif. Pendekatan budaya (kultur sekolah) untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah (good school) akan lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan struktural. (***)

What do you think?

Written by Julliana Elora

Generasi Muda Sambut Antusias, Yamaha Siap Jadikan Padang Lautan Aerox

Gegara Kucing Mati, Keponakan Tega Bunuh Pamannya di Banyumas