

Jakarta (ANTARA) – Lagu “Rayuan Pulau Kelapa” menjadi salah satu karya nasional yang menggambarkan keindahan alam sekaligus kecintaan terhadap Tanah Air Indonesia. Lagu ciptaan Ismail Marzuki itu dikenal luas sebagai karya yang menggambarkan kekayaan Nusantara.
“Rayuan Pulau Kelapa” diciptakan Ismail Marzuki pada 1944, ketika Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang. Lagu tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu karya yang lekat dengan semangat kebangsaan.
Lirik lagu Rayuan Pulau Kelapa
Lagu “Rayuan Pulau Kelapa” menggambarkan keindahan Indonesia melalui gambaran tanah air, kepulauan, pantai, dan pepohonan kelapa.
Berikut liriknya:
Baca juga: Lirik lagu “Bagimu Negeri”, lengkap dengan sejarah dan maknanya
Tanah Airku Indonesia
Negeri Elok Amat Ku Cinta
Tanah Tumpah Darahku nan Mulia
Yang Ku Puja Sepanjang Masa
Tanah Airku Aman dan Makmur
Pulau Kelapa Yang Amat Subur
Pulau Melati Pujaan Bangsa
Sejak Dulu Kala
Melambai Lambai
Nyiur Di Pantai
Berbisik Bisik
Raja Kelana
Memuja Pulau
Nan Indah Permai
Tanah Airku Indonesia
Baca juga: Lirik lagu Garuda Pancasila dan sejarah terciptanya
Lirik tersebut kemudian menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang aman dan makmur serta keindahan pulau-pulaunya.
Sejarah terciptanya Rayuan Pulau Kelapa
“Rayuan Pulau Kelapa” diciptakan Ismail Marzuki pada 1944. Sejumlah catatan menyebut lagu tersebut dibuat pada Oktober 1944, sedangkan sumber lain mencatat tanggal 15 November 1944 pada partitur karya tersebut.
Lagu ini lahir ketika Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang. Meski liriknya banyak menggambarkan keindahan alam, karya tersebut juga membawa pesan kecintaan terhadap tanah air dan semangat kebangsaan.
Pohon kelapa menjadi salah satu gambaran utama dalam lagu tersebut. Keberadaan pohon kelapa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia menjadi simbol keindahan alam Nusantara yang dituangkan Ismail Marzuki melalui musik.
Pernah menggema di penutupan Asian Games 1962
“Rayuan Pulau Kelapa” memiliki perjalanan panjang setelah diciptakan. Lagu tersebut kemudian dikenal luas dan menjadi salah satu karya yang mewakili gambaran Indonesia di luar negeri.
Lagu ini juga pernah dibawa dalam misi diplomasi budaya ke Uni Soviet pada 1956. Setelah itu, versi aransemen komponis Soviet Vitaly Geviksman dan versi berbahasa Rusia yang dinyanyikan Maya Golovnya turut membuat lagu tersebut dikenal di negara tersebut.
Di Indonesia, “Rayuan Pulau Kelapa” juga pernah menjadi lagu penutup siaran televisi pada masa Orde Baru. Lagu tersebut sebelumnya telah diperdengarkan melalui radio dan menjadi salah satu karya yang akrab bagi masyarakat.
Baca juga: Lirik lagu “Halo-Halo Bandung” dan sejarah terciptanya
Sosok Ismail Marzuki
Ismail Marzuki merupakan salah satu komponis besar Indonesia. Ia lahir di Kwitang, Jakarta, pada 11 Mei 1914 dan mulai berkarya di dunia musik sejak usia muda.
Sepanjang perjalanan kariernya, Ismail Marzuki menghasilkan banyak karya musik. Dokumen penghargaan kebudayaan mencatat bahwa dalam periode 1931 hingga 1948, ia menciptakan sekitar 193 lagu, dengan sejumlah karya yang menjadi bagian penting dari musik perjuangan Indonesia.
Selain “Rayuan Pulau Kelapa”, sejumlah karya Ismail Marzuki yang dikenal hingga kini antara lain “Gugur Bunga”, “Indonesia Pusaka”, “Halo-Halo Bandung”, “Sepasang Mata Bola”, dan “Selendang Sutera”.
Ismail Marzuki meninggal dunia pada 25 Mei 1958 di Jakarta dalam usia 44 tahun. Ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasanya dalam bidang kebudayaan dan perjuangan melalui musik.
Makna lagu Rayuan Pulau Kelapa
“Rayuan Pulau Kelapa” memiliki makna utama berupa kecintaan terhadap Tanah Air dan kekaguman terhadap keindahan alam Indonesia.
Penggambaran pulau, pantai, flora, serta pohon kelapa menjadi cara Ismail Marzuki menunjukkan kekayaan dan keindahan Nusantara. Gambaran tersebut sekaligus memperlihatkan rasa bangga terhadap Indonesia sebagai tanah air.
Karena pesan tersebut, “Rayuan Pulau Kelapa” tetap dikenal sebagai salah satu lagu nasional Indonesia. Lagu ini tidak hanya mengajak masyarakat mengagumi keindahan Nusantara, tetapi juga mengingatkan pentingnya mencintai dan menjaga Tanah Air.
Baca juga: Lirik lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” lengkap dan maknanya
Baca juga: Lirik lagu “Berkibarlah Benderaku” lengkap dan maknanya
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

