BANGKOK – Negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/Asean) sepakat untuk mengatasi sampah yang mencemarai laut. Asean juga akan memperkuat hukum dan peraturan nasional serta meningkatkan kerja sama regional dan internasional, termasuk melakukan dialog kebijakan yang relevan dan pertukaran informasi tentang penanggulangan sampah laut.
“Semua negara menghargai dan menekankan perlindungan lingkungan dan mendukung Thailand memasukkan agenda perlindungan lingkungan dan memerangi sampah laut, yang sesuai dengan agenda global,” kata wakil juru bicara pemerintah Thailand, Werachon Sukondhapatipak, di Bangkok, Minggu (23/6).
Komitmen mengatasi sampah laut tertuang dalam Deklarasi Bangkok tentang Melawan Sampah Laut di Kawasan Asean yang ditandatangani sepuluh kepala negara dan pemerintahan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-34 Asean di Bangkok.
Di dalam dokumen deklarasi tersebut, para kepala negara Asean sepakat untuk memperkuat aksi di tingkat nasional serta melalui tindakan kolaboratif di antara negara-negara anggota Asean dan mitra untuk mencegah dan mengurangi sampah laut secara signifikan khususnya dari kegiatan berbasis darat, termasuk manajemen yang berwawasan lingkungan.
Asean juga sepakat untuk mendorong pendekatan darat-ke-laut yang terintegrasi untuk mencegah dan mengurangi sampah laut, dan memperkuat undang-undang dan peraturan nasional serta meningkatkan kerja sama regional dan internasional termasuk dialog kebijakan dan pertukaran informasi yang relevan.
Deklarasi Bangkok tentang melawan sampah laut ini dipuji oleh para pencinta lingkungan sebagai langkah pertama yang baik untuk kawasan Asean, meskipun keraguan masih membayangi implementasi karena blok tersebut memiliki kode non-interferensi yang akan memberi wewenang kebijakan negara anggota.
Isu “Rakhine State”
Sementara itu, saat melakukan retreat di Hotel Athenee, Bangkok, Presiden Jokowi kembali mengangkat isu Rakhine State. “Saya ingin bicara sebagai satu keluarga, berterus terang, untuk kebaikan kita semua,” katanya.
Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Pemimpin Asean telah memberikan mandat ke Asean Coordinating Centre For Humanitarian Assistance (AHA Centre) untuk melakukan needs assessment guna membantu Myanmar mempersiapkan repatriasi yang sukarela, aman, dan bermartabat.
Mandat tersebut sudah dijalankan melalui pelaksanaan Preliminary Needs Assessment (PNA) tim ke Rakhine State.
“Rekomendasi laporan PNA harus ditindaklanjuti. Saya berharap bahwa komite tinggi dapat segera membuat rencana aksi dengan kerangka waktu yang jelas.
“Tindak lanjut rekomendasi akan membantu terciptanya kemajuan dalam persiapan repatriasi,” kata Jokowi. AFP/Ant/ang/AR-2