in

SD Negeri 50 Payakumbuh, Senangnya Berburu Ilmu ke Kota Budaya

Vivia Wirna, S.Pt
(Guru SD Negeri 50
Payakumbuh)

Studi wisata adalah salah satu sarana pendidikan aktual di lapangan yang berinteraksi dengan alam. Perjalanan yang memberikan banyak manfaat bagi peserta didik dalam memperoleh berbagai pengalaman di luar kelas, mendapatkan banyak informasi belajar yang praktis dan memiliki peran dalam membentuk karakter setiap peserta didik menjadi lebih percaya diri, berani, mandiri, tangguh, dan meningkatkan jiwa kepemimpinan, keterampilan berkomunikasi serta memperkuat fisik dan mentalnya.

Studi wisata sebuah perjalanan menarik yang akan membangkitkan semangat belajar peserta didik dan menghilangkan kejenuhan belajar di dalam kelas serta memberikan kesempatan untuk memvisualisasikan pelajaran dengan mengamati dan mengalami langsung, sehingga memperkuat materi yang telah dipelajari di kelas. Mereka akan memiliki banyak informasi dari apa yang mereka lihat dan alami sendiri sehingga mendorong peserta didik untuk belajar dengan cara menyenangkan.

Melalui studi wisata ini bisa membawa peserta didik pada pengalaman baru seperti budaya, tradisi serta sejarah yang sebelumnya hanya diperoleh secara teori di kelas sehingga membuka mata, pikiran dan wawasan terhadap hal yang baru mereka ketahui.

Menurut Mohammad Iqbal seorang Praktisi Pendidikan yang juga Dosen Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) pada Radio Suara Surabaya, Kamis, 2 Juni 2022 pagi mengatakan, studi tour  saat ini perlu segera dilaksanakan untuk me-refresh pengalaman mendasar para murid. Studi tour ini penting, karena anak-anak bisa punya pengalaman bertemu narasumber secara langsung, bahkan bisa melihat bukti-bukti fisik pembelajaran secara langsung,” jelasnya.

Agar semua menfaat ini bisa kita peroleh secara maksimal, maka perlu perencanaan yang matang. Salah satunya menentukan tempat studi wisata yang akan di tuju. Tempat yang dipilih bukan hanya tempat yang dapat digunakan peserta didik untuk belajar dan juga tempat yang menyenangkan untuk berwisata.

Tujuannya tak lain adalah, disamping belajar, peserta didik juga bisa lebih berbahagia untuk berwisata. Selanjutnya juga direncanakan kegiatan yang positif yang akan dilakukan di sana. Seperti mengunjungi tempat-tempat bersejarah hingga kegiatan outbund yang akan menjadi hal baru dan menarik bagi peserta didik dan juga bisa menjadi sarana belajar bagi mereka.

Begitu juga di SD Negeri 50 Payakumbuh. Studi wisata sudah menjadi kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh SD Negeri 50 Payakumbuh setiap satu tahun sekali. Di tahun ini SD Negeri 50 Payakumbuh melakukan studi wisata dalam rangka puncak tema dan implementasi pembelajaran di semester I tahun pelajaran 2022-2023 diikuti oleh peserta didik kelas 4, 5 dan 6 sebanyak 55 orang yang didampingi oleh kepala sekolah Wantri Hardi, S.Pd dan guru-guru hebat SD Negeri 50 Payakumbuh yakni Cici, S.Pd; Ibu Nurwisma, S.Pd; Susti Erlinda, S.Pd; Ibu Zetra Elvita, S.Pd.SD; Vivia Wirna, S.Pt; Ibu Hayatul Khairi, S.Pd; Mardianis, S.PdI; Osmila, S.Pd; Ondri dan Eri.

Di dampingi juga oleh Donny Babin Kamtibmas Kelurahan Parik Muko Aia. Kegiatan studi wisata ini dilaksanakan selama satu hari, yaitu pada hari Kamis, 24 November 2022 dengan menggunakan 2 armada bus.

Pemberangkatan kegiatan studi wisata ini pada pukul 08.00 WIB. Sebelum berangkat seluruh peserta didik berkumpul di halaman sekolah untuk mendengarkan arahan dari kepala sekolah Wantri Hardi, S.Pd tentang rute, tujuan studi wisata serta sikap-sikap atau pembiasaan-pembiasaan yang baik yang harus dipertahankan oleh peserta didik di sepanjang perjalanan dan berdoa bersama.

Pada tahun ini, tujuan studi wisata SD Negeri 50 payakumbuh ke Kota Budaya yaitu Kota Batusangkar. Ada empat lokasi yang dikunjungi yaitu Batu Basurek, Batu Batikam, Balai Nan Panjang dan Istano Basa Pagaruyung. Sekitar pukul 09.30 WIB rombongan sampai di Kota Batusangkar. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Objek wisata dan budaya ”Batu Basurek”.

Batu Basurek memiliki sejarah yang unik. Batu Basurek adalah salah satu peninggalan Raja Adityawarman yang ditemukan di Kubu Rajo Limo Kaum Tanahdatar, di tepi jalan dari Batusangkar menuju ke Padang. Batu Basurek merupakan prasasti sebagai bentuk peninggalan sejarah yang dituliskan pada sebongkah batu. Karna dituliskan di atas batu, maka masyarakat Minangkabau menyebutnya dengan nama ”Batu Basurek”.

Peserta didik sangat antusias dalam mengamati objek di sana dan menggali informasi dari nara sumber yang ada di sana. Setelah beristirahat sejenak, rombongan studi wisata melanjutkan pejalanan ke lokasi wisata budaya ”Batu Batikam”. Batu Batikam adalah salah satu benda cagar budaya bersejarah yang terletak di Jorong Dusun Tuo Nagari Limo Kaum, Kecamatan Limokaum, Kabupaten Tanahdatar Provinsi Sumatera Barat.

Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, Batu Batikam berarti batu yang tertusuk. Konon kabarnya dulu lubang atau tusukan yang ada di tengah batu itu merupakan bekas dari tusukan keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang yang menjadikan batu batikam sebagai simbol perdamaian antar pemimpin yang berkuasa pada masa itu.

Batu Batikam menjadi salah satu lokasi wisata yang menarik minat wisatawan. Selain memiliki keunikan yang membuat wisatawan penasaran, batu ini juga dinilai mengandung unsur pelajaran, pengetahuan dan hikmah tentang pentingnya perdamaian. Peserta didik diberikan kebebasan untuk mengamati langsung Batu Basurek dan Batu Batikam, mendengarkan dan mewawancarai langsung nara sumber.

Ini untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang sejarah Batu Batikam dan Batu Basurek, sambil mengisi lembar kerja yang sudah disiapkan oleh guru. Perjalanan dilanjutkan ke Balai Nan Panjang yang terletak daerah Tabek Batusangkar. Balai Nan Panjang berarti balai panjang yang terdiri dari 17 ruangan.

Balai Nan panjang memiliki banyak tiang dan menyerupai bangunan khas Minangkabau yaitu rumah gadang. Balai Nan Panjang ini digunakan sebagai tempat memutuskan perkara adat sehingga balai berfungsi sebagai lembaga peradilan adat bagi masyarakat Minangkabau dalam suatu nagari.

Banyak informasi yang peserta didik dapatkan di sana. Peserta didik dan guru-guru beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Istano Basa Pagaruyung. Selain tempatnya sangat nyaman untuk beristirahat, juga suasananya dengan hembusan angin yang segar membuat semuanya sangat betah di sana.

Sebelum shalat Zuhur, rombongan sudah sampai di Istana Basa Pagaruyung. Yang merupakan museum berupa replika Istana Kerajaan Pagaruyung terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjungemas, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan objek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.

Sesampainya di Istano Basa Pagaruyung, peserta didik dan guru-guru melaksanakan shalat Zhuhur dan makan siang. Setelah itu beristirahat sambil menikmati pesona keindahan alam dan budaya Minangkabau. Minangkabau memang tempat sejuta persembahan yang menakjubkan. Terlihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah peserta didik. Mereka sangat menikmati perjalanan sampai di Istano Basa Pagaruyung yang luar biasa indahnya ini.

Di sana peserta didik mengamati semua yang ada di sekitar Istano Basa Pagaruyung sampai benda-benda bersejarah yang ada di dalam Istano Basa pagaruyung. Mereka juga mengumpulkan informasi tentang sejarah Minangkabau sambil menuliskan hasil pengamatan di lembar kerja. Banyak yang belum mereka lihat bisa diamati langsung di sana.

Setelah shalat Ashar dan berfoto bersama, rombongan kembali menuju ke Kota Payakumbuh. Dan akhirnya sampai kembali di SD Negeri 50 payakumbuh pukul 18.00 WIB.(***)

What do you think?

Written by Julliana Elora

SD Pius Payakumbuh, Jaga Lingkungan Lewat Lisa dan Semut

Ten Hag: Penjualan Manchester United tidak Mengubah Sasaran dan Budaya Klub