in

SMP Negeri 33 Padang, Keyakinan Kelas dan Merdeka Belajar

Arlina, S.S, M.Pd
(Guru SMPN 33 Padang)

Guru sering beranggapan bahwa jika saja anak disiplin, pasti mereka bisa belajar. Akan tetapi guru mungkin melupakan landasan agar anak disiplin. Seyogyanya dari awal, guru sudah memiliki pengetahuan tentang 3 motivasi perilaku manusia, yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman.

Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Disiplin dan bentuk budaya positif lainnya di sekolah, khususnya dalam sebuah kelas, tentu tidak terlepas dari setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan warganya.

Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk terbentuknya budaya positif, pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Jika kita berbicara tentang mengapa kita harus menggunakan masker pada masa pandemi, tentu jawabnya adalah untuk “kesehatan dan atau keselamatan.

Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama.

Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Untuk terbentuknya sebuah budaya positif, pertama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan atau prinsip kelas di antara para warga kelas.

Karena keyakinan akan memotivasi seseorang dari dalam atau memotivasi secara intrinsik (Gossen(1998). Disamping itu, guru juga perlu memahami tentang 5 kebutuhan dasar manusia (bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, kebebasan, kesenangan dan kekuasaan). Dengan demikian, guru dapat menerapkan 5 posisi kontrol dan jenis disiplin restitusi yang tepat.

Di awal semester, penulis menerapkan keyakinan kelas ini di kelas yang penulis ajar. Dengan menggunakan media kertas berwarna seperti “sticky notes” murid diberikan masing-masing satu kertas untuk menuliskan tentang keyakinan kelas yang akan disepakati. Kita bisa menanyakan pada murid, kelas yang bagaimana yang mereka inginkan atau cara belajar seperti apa yang mereka impikan.

Sebagian besar ingin kelas yang nyaman, bersih, memiliki rak buku, kelas yang tidak ada bully atau kekerasan, kelas yang solid dan sebagainya. Keinginan mereka tersebut dituliskan di kertas berwarna tadi dan ditempelkan di papan tulis. Setelah itu, guru meminta satu atau dua orang murid untuk membacakannya.

Dengan jawaban yang beragam tersebut, guru dan murid menyimpulkan bersama-sama rumusan keyakinan kelas trsebut. Yaitu disiplin, saling menghargai, toleransi, kesehatan dan keselamatan. Lalu ditandangani oleh semua warga kelas di sebuah karton dan dipajang di dalam kelas.

Selaras dengan apa yang disampaikan Bapak Ki Hajar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri”, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”. Tentu ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi kita agar mampu mewujudkan keinginan anak didik untuk mau dan “betah” berada di dalam kelas.

Dari apa yang menjadi keinginan mayoritas murid, penulis melihat bahwa mereka menginginkan khususnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris, agar menggunakan game dalam proses pembelajaran. Karena memang anak-anak itu kodratnya adalah “bermain”. Tentunya permainan atau game yang dilakukan dalam proses pembelajaran, terkait dengan materi yang diajarkan.

Penulis berharap bisa menuntun mereka belajar, menumbuhkan kecintaan terhadap Bahasa Inggris, lalu akan meningkatkan nilai dan prestasi mereka nantinya. Penulis akan berupaya untuk melibatkan anak-anak dalam pembelajaran agar bisa mengenal murid lebih dekat, menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan menghargai proses, serta melakukan aksi nyata dalam Merdeka Belajar.

Lalu,dengan adanya keyakinan kelas, seperti disiplin dalam mengerjakan tugas, disiplin dalam menjaga kebersihan kelas, menghargai teman dan guru, dan sebagainya, diharapkan akan terbangun komunikasi yang baik antara murid dan guru, tentang bagaimana kelas yang diinginkan dan proses pembelajaran yang diharapkan.

Dengan demikian, akan terwujud kelas yang kondusif, lingkungan yang positif, budaya positif serta pembelajaran yang berpihak pada murid, sehingga terwujudlah Merdeka Belajar. Semoga.(Arlina, S.S, M.Pd, Guru SMPN 33 Padang)

What do you think?

Written by Julliana Elora

SLB Negeri 1 Padang, Berinovasi Ciptakan Instrumen Asesmen Perkembangan

Real Madrid Lewat! Girona Puncaki Klasemen usai Bantai Barcelona