in

Sorban, Gamis dan Semiotika Terbalik

Farhan Zuhri.

Oleh Farhan Zuhri Baihaqi, S.Hum (Az-Zuhri)*

Ada stigma negatif yang mengemuka akhir ini terkait dengan simbol (cara berpakaian) beberapa aktivis dan pemuka agama khusunya Islam. Simbol tersebut antara lain sorban dan gamis. Stigma negatif ini diprakarsai oleh beberapa tokoh, di antaranya Ketua PBNU Prof Said Aqil, beliau merasa prihatin karena jubah dan gamis dipakai untuk ajang demo (212, 411), KH. Said Aqil Shiradj juga menyindir kelompok-kelompok Islam yang lebih mencintai budaya Arab dibanding budaya Indonesia sendiri. Beliau juga mengatakan bahwa “fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara, yang disebutnya dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras”. Dari argumen tersebut ketua PBNU ini mencoba menjustifikasi gamis dan sorban bukan dari khazanah budaya Indonesia.

Pada dasarnya banyak literature sejarah kita temui bahwa sebagian para pejuang kemerdekaan Indonesia punya simbol tersendiri dalam hal berpakaian. Sorban, gamis dan dan lainnya merupakan pakaian sekaligus simbol kesatria untuk memerdekakan Indonesia. Kenyataan ini diperkuat pula dengan temuan berbagai foto klasik para pejuang kemerdekaan yang dipublis akhir-akhir ini seperti KH Hasyim Asyari salah satu tokoh pendiri ormas terbesar di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama.

Kontra dari pernyataan ketua PBNU tersebut, guru besar sejarah Universitas Padjajaran Profesor Ahmad Mansur Suryanegara dalam sebuah kesempatan berpendapat “Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Sentot Alibasyah berbusana islami (sorban, gamis) menyelamatkan bangsanya dari keruntuhan moral bangsanya”. Dan yang terbaru Sekjen MUI Ustadz Tengku Zulkarnain juga meluruskan dengan gestur kemarahan jika dikatakan gamis dan sorban dikatakan sebagai budaya Arab. beliau mengungkapkan bahwa gamis adalah pakaian nasional. Buktinya Para pahlawan nasional kita mengenakan sorban dan gamis. KH. Hasyim Asyari saja mengenakan gamis dan sorban.

Ada apa dibalik simbol (sorban dan gamis) ini? Pertanyaan yang mungkin juga terbesit dalam qalbu masyarakat luas.
Kita pahami dulu dalam perjalanan sebuah bangsa ataupun sebuah perjuaagan tentunya mereka yang berjuang mempunyai kekhasan masing-masing atau simbol(tanda) perjuangan. Simbol ini dalam istilah Yunani disebut semeion atau semiotik yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, yang dianggap mewakili sesuatu yang lain semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna. Merujuk pada bapak bahasa dunia Ferdinand de Saussure (1916), melihat tanda sebagai pertemuan antara bentuk (yang tercitra dalam kognisi seseorang) dan makna (atau isi, yakni yang dipahami manusia sebagai tanda). De Saussure menggunakan istilah signifiant (penanda) untuk segi bentuk suatu tanda, dan signifié (petanda) untuk segi maknanya. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. (Littlejohn, 2009 : 53)

Berbicara semiotoka dalam budaya di Indonesia, paham terkait simbol(tanda) budaya tentunya masih segar di ingatan masyarakat lebih-lebih mereka pakar budaya, juga berbagai simbol budaya baik dari timur kebarat atau dari Sabang sampai Merauke, Masyarakat dan khususnya budayawan paham setiap daerah punya simbol dan ciri khas daerah masing-masing, di Samping itu pula simbol budaya sorban dan gamis tidak terbatas dengan daerah tertentu, tetapi lebih global.

Perlu diluruskan juga sebuah kebiasaan yang berjalan semestinya harus ada penjelasan secara historis, fakta bahwa sorban dan gamis pernah menjadi pakaian kesatria untuk melawan penjajah jangan dilupakan, apalagi menganggap simbol (sorban dan gamis) sebagai simbol teroris, ini merupakan semiotika terbalik. Jika didefinisikan semiotika terbalik adalah mengubah signifié dari sebuah kebenaran secara makna menjadi samar atau kebohongan.

Penulis sengaja mengangkat paham semiotika terbalik ini sebagai bentuk pemahaman oleh beberapa person atau oknum yang memberikan makna bahwa sorban dan gamis sebagai simbol kekerasan dan anarkisme serta lebih mengarah kepada terorisme. ketika ketidaksukaan kepada golongan atau kelompok tertentu sehingga menjustifikasi bahwa simbol sorban dan gamis adalah simbol extrem bukan simbol budaya.

Dalam Islam sendiri gamis dan sorban adalah pakaian yang disunnahkah dan disukai oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagaimana dalam Hadis yang berbunyi “Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi) dan Hadis tentang sorban “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359) Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin di mana hadits tersebut juga menunjukkan bahwa pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian gamis. Dari penjelasan Hadis tersebut kita bisa pahami bahwa gamis dan sorban adalah simbol budaya global di berbagai negara mayoritas Islam di dunia, bukan simbol yang hanya terbatas pada negara Arab (Timur Tengah) saja. Karena selain sebagai simbol budaya, sorban dan gamis juga merupakan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Yang mesti dilestarikan demi meraup pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kesimpulannya bahwa setiap simbol budaya punya histori yang melatar belakangi mengapa demikian, seperti contoh di atas (sorban dan gamis) merupakan simbol kesatria karena mereka para pejuang kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro dan beberapa pejuang Muslim lainnya terinspirasi dari Perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Simbol yang menjadi pahala Sunnah apabila digunakan. Sudah sepatutnya meluruskan semiotika terbalik tentang sorban dan gamis. Karena jika tidak ada pejuang yang bersorban dan gamis pada era pra Kemerdekaan bisa saja negara ini belum merdeka.
Wallahualam

*)Alumnus Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry, spesialisasi postkolonial theory.

Komentar

What do you think?

Written by virgo

Ihsan, Derajat Tertinggi Seorang Muslim

Umbulan Akan Pasok Air Bersih 1,3 Juta Warga Jatim