in

Waspadai Gangguan Ginjal Akut Misterius

Aumas Pabuti
Ahli Nefrologi Anak

PANDEMI Covid-19 belumlah usai. Sekarang dunia dikejutkan oleh kasus gangguan ginjal akut (GGA) misterius yang belum diketahui penyebab pastinya. Gangguan ginjal akut misterius yang saat ini disebut dengan Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GgGAPA) telah menyerang anak-anak di beberapa negara. Seperti Gambia, Amerika Serikat, India, Uganda dan termasuk Indonesia.

Data terbaru yang dikeluarkan Kemenkes pada 18 Oktober 2022 menyebutkan, 206 anak-anak di 22 provinsi terserang GgGAPA dan 99 orang diantaranya meninggal dunia. Sumatera Barat menempati peringkat ke empat tertinggi sebagai penyumbang angka penderita penyakit yang dominan menyerang anak usia di bawah lima tahun ini.

Sampai saat ini, tercatat 24 orang pasien GgGAPA yang dirawat sejak Juli 2022 di rumah sakit dan 12 orang (50 persen) diantaranya meninggal dunia. Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal ini adalah sebuah kondisi dimana terjadi penurunan mendadak fungsi ginjal, yang meliputi terjadinya kerusakan struktur dan hilangnya fungsi ginjal.

Ginjal adalah salah satu organ yang sangat vital bagi tubuh manusia dan sama pentingnya dengan jantung, otak dan paru-paru. Ginjal memiliki fungsi untuk menyaring darah, mengeluarkan racun-racun dalam tubuh, mengatur jumlah cairan dan kadar elektrolit dalam darah, mengatur tekanan darah, membantu mengaktivasi vitamin D dan lainnya.

Pada anak yang menderita GgGAPA terjadi kerusakan struktur ginjal dan penurunan bahkan hilangnya fungsi-fungsi ginjal tadi. Hal ini menyebabkan meningkatnya kadar racun (ureum dan kreatinin) dalam darah, berkurang bahkan tidak adanya urine yang keluar, sembab, kejang dan penurunan kesadaran serta beberapa gejala lain.

Kondisi perburukan ini terjadi sangat cepat, sehingga perlu penanganan segera. Jika situasi ini tidak segera ditangani, maka ginjal tidak lagi bisa diselamatkan dan akhirnya berujung dengan kematian. Penyebab pasti dari kejadian luar biasa ini sampai sekarang masih menjadi tanda tanya.

Beberapa dugaan muncul tentang penyebab dari GgGAPA ini, mulai dari infeksi COVID-19, infeksi virus, kontaminasi zat pelarut dalam obat sirup dan lain-lain. Pada 22 kasus yang ada di Sumatera Barat, 64% persen di antaranya ditemukan peningkatan kadar antibodi terhadap virus SARS COV-2 yang menandakan pernahterinfeksi COVID-19. Sebagian kecil kasus yang dirawat di RSCM juga ditemukan adanya infeksi virus dan leptospira.

Penyebab lain yang membuat khawatir masyarakat saat ini adalah cemaran etilen glikol (EG) dan senyawa turunannya pada obat sirup. Kasus ini pertama kali dilaporkan pada pasien GgGAPA di Gambia setelah anak-anak tersebut mengonsumsi sirup paracetamol yang diproduksi di India.

BPOM sudah mengumumkan dan menarik beberapa merek obat yang mengandung kadar EG melebihi ambang aman. Demi keamanan, pemerintah melalui Kemenkes mengeluarkan imbauan untuk tidak mengkonsumi sementara obat-obatan sirup pada anak. Edaran ini tentu membuat kegaduhan dan kekhawatiran pada orang tua yang memiliki anak.

Dalam menyikapi maraknya kasus yang terus merebak, yang kita perlukan adalah kewaspadaan dini tentang gejala-gejala GgGAPA ini. Gejala yang sering muncul pada fase awal adalah demam, muntah, dan diare. Namun gejala yang sangat khas adalah berkurang atau tidak adanya urin atau buang air kecil (BAK) yang terjadi secara mendadak. Biasakan untuk rutin memeriksa BAK anak-anak kita terutama bayi di bawah usia dua tahun.

Jika ditemukan balita dengan gejala-gejala di atas, segeralah bawa ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat. Kemudian juga diimbau kepada masyarat untuk tidak membeli obat bebas tanpa rekomendasi dokter sampai didapatkan hasil investigasi menyeluruh oleh Kemenkes dan BPOM.

Cemaran etilen glikol ini meskipun tidak ditemukan pada semua sampel penderita, tapi asas kehati-hatian dan pencegahan lebih kita dahulukan. Kita tentu harus belajar dari kejadian di Gambia dimana mayoritas kasus GgGAPA disebabkan oleh keracunan etilen glikol yang ada pada obat sirup.

Langkah kewaspadaan selanjutnya adalah mengurangi aktivitas anak-anak di lingkungan yang berkemungkinan memaparkan risiko infeksi. Seperti kerumunan, ruang tertutup, dan tidak menggunakan masker. Anak-anak adalah kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai infeksi dan paparan karena daya tahan tubuh yang masih rendah.

Seyogyanya kita harus selalu menjaga anak-anak kita dari semua faktor yang bisa memudahkan terjadinya paparan. Semua langkah kewaspadaan di atas telah dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia kepada masyarakat untuk dipatuhi agar anak-anak kita terhindar dari GgGAPA ini.

Dari kasus Covid-19 kita telah banyak belajar bagaimana cara menyikapi kejadian luar biasa seperti ini. Kepatuhan dan kedisiplinan dalam menjalankan protokol atau himbauan pemerintah dan para ahli adalah kunci utama menghadapi pandemu Covid-19. Begitu juga mestinya sikap kita menghadapi kasus baru ini, masyarakat diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan dini dan mematuhi himbauan pemerintah dan para ahli. (*)

What do you think?

Written by Julliana Elora

Empat Perkara Yang Membawa Sengsara

Tak Terampil, Dokter Gigi Bisa Digantikan Robotik