Beranda Nasional Dakwah Rumah Tangga

Dakwah Rumah Tangga

183
0
BERBAGI

Headlines Harian Padang Eskpres, Jumat, 12 Mei 2017, memuat berita Ketika Imunisasi di Indonesia Belum Menyentuh Semua Anak, dan diperkuat dengan judul Hapus Isu Haram, Masukan Materi Dakwah yang pesan beritanya adalah bahwa cakupan imunisasi di Indonesia menurun, karena faktor demografi dan isu vaksinnya haram.

Imam Besar Masjid Istiqlal menegaskan bahwa imunisasi itu penting, halal dan kalaupun vaksin haram, akan tetapi jika itu sangat diperlukan ia menjadi boleh. Di samping itu, dia meminta mubalig ikut menjadikan imunisasi sebagai materi dakwah dalam bab kehidupan rumah tangga. Memang kehidupan rumah tangga dengan segala turunannya di era digital ini cukup keras dihantam badai perubahan. 

Indikasinya jelas sekali, tingginya angka perceraian, gugat cerai, nikah usia dini semakin sulit mengendalikannya, kasus penelantaran anak yang dilakukan orangnya sendiri, kekerasan terhadap anak dan penyimpangan seksual remaja, adalah masalah-masalah sosial yang berhulu, serta bermuara pada keluarga.

Menurunnya cakupan imunisasi sebagai kebutuhan dasar untuk antibodi anak-anak empat tahun terakhir, juga indikasi tengah terjadi sesuatu dalam keluarga Indonesia.

Kecemasan terhadap banyaknya masalah keluarga patut menjadi perhatian tokoh agama, karena keluarga adalah institusi paling fundamental dalam kehidupan berbangsa. 

Kajian tentang keluarga, kini harus menjadi tema penting oleh pemuka agama. Tidak sulit menunjukkan bahwa kerapuhan dan kegaduhan dalam satu keluarga membawa efek luas bagi lingkungan. Perhatian terhadap kualitas kesehatan keluarga juga perlu diingatkan, karena sumber daya insani berkualitas bermula dari keluarga berkualitas. 

Rumah Tangga Sehat

Islam mendorong agar manusia memelihara kesehatan jasmaniah dan ruhaniah dengan menjauhi hal-hal yang menimbulkan kerusakan (mafsadah). Sistem kesehatan dalam Islam tercermin dalam ajaran yang mewajibkan perbuatan membersihkan diri, bersuci atau thaharah dari kotoran najis, dari hadas dan dari kotoran hati, semuanya berada dalam satu paket ibadah seperti wudhu, shalat dan lainnya. 

Guna mendapatkan kesehatan jasmaniah, manusia dianjurkan menjaga kebersihan baik diri maupun lingkungan, “Kebersihan itu sebagian dari iman” (HR. Muslim). Iman merupakan pokok ajaran untuk berbuat secara sehat. Islam menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam aspek penting, yaitu kebersihan dan kesucian rumah dan pekarangan, badan, pakaian, makanan, serta kebersihan dan kesucian ruh dan hati. 

Masalah kesehatan hubungan laki-laki dan perempuan dan kesehatan reproduksi,  Islam memberikan perhatian berupa pelarangan berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. 

Pelarangan ini merupakan tindakan preventif agar tidak terjadi perzinahan atau hubungan seksual di luar pernikahan yang merupakan perbuatan terlarang. Pelarangan terhadap zina karena dampak yang ditimbulkannya dapat menyebabkan kehamilan yang tidak dikehendaki, dan akhirnya bisa memicu aborsi. 
Larangan perzinahan adalah menjaga wanita memperhatikan dengan sebaik-baiknya kesehatan reproduksinya sehingga dapat menjalankan fungsi reproduksi secara sehat dan bertanggung jawab, melalui pernikahan.  

Pernikahan adalah wujud perlindungan agar reproduksi menjadi sehat dan bertanggung jawab, bahkan dalam pernikahanpun tidak boleh berhubungan ketika istri sedang haid (QS. Al-Baqarah: 222). 

Islam memerintahkan agar  memberikan hak pada wanita untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari semua pihak, seperti hak mendapatkan pelayanan kesehatan saat hamil dan menyusui. 

Suami berkewajiban menjaga istrinya yang sedang hamil atau menyusui agar selalu dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun mental. Islam memberi petunjuk pada wanita agar reproduksi dilakukan dengan mengatur jarak kelahiran.

Menjaga kesehatan reproduksi itu adalah mulia, karena penciptaan manusia adalah kreasi Allah SWT. Islam mengharamkan segala bentuk perusakan, pelukaan dan lebih jauh pembunuhan manusia. Ini dikemukakan dalam banyak ayat Al Quran maupun pernyataan Nabi Muhammad SAW. 

Islam memberikan bimbingan pencegahan (preventif) terhadap apa saja yang akan merusak kehidupan manusia. Pendidikan kesehatan reproduksi manusia dapat dilakukan dengan cara-cara; (1) kenalkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan itu berbeda. (2) memisahkan tempat tidur mereka. Rasulullah SAW, menyuruh  memisahkan tempat tidur laki-laki  perempuan pada usia 7 tahun. (3) meminta izin pada tiga waktu  tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah  sebelum Shalat Subuh, tengah hari, dan setelah Shalat Isya. (4) menjaga aurat. (5) mengenalkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. (6) mengenalkan ciri-ciri pubertas.

Fungsi dan Ketahanan Keluarga

Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu. Fungsi dasar keluarga dari sisi biologis, berupa meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan memelihara dan merawat anggota keluarga. 

Keluarga juga memiliki fungsi psikologis berupa memberikan kasih sayang dan rasa amanm, memberikan perhatian di antara anggota keluarga, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas anggota keluarga. Fungsi Sosialisasi yang melekat dalam keluarga adalah membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma perilaku sesuai tingkat perkembangan anak, dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. 

Fungsi ekonomi keluarga adalah mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua, dan sebagainya. 

Fungsi pendidikan yang mestinya harus dilakukan dalam keluarga adalah menyekolahkan anak untuk memberi pengetahuan, keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai bakat dan minat yang dimilikinya, mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa, mendidik anak sesuai tingkat perkembangannya.

Keluarga juga berfungsi rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga. 

Ketahanan keluarga adalah konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga Islami dari virus kejahiliyahan dan westernisasi yang mengancam eksisitensinya menjalankan amal-amal Islami. 

Kehidupan global yang begitu dahsyatnya memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan manusia. Munculnya budaya permisif, style kehidupan versi barat tidak dipungkiri telah merasuk rumah tangga Islami. Sehingga, sikap kehati-hatian dan kewaspadaan mutlak diperlukan dengan membangun ketahanan rumah tangga.

Di sinilah pentingnya setiap individu muslim mengetahui dasar-dasar ketahanan keluarga agar keluarganya tidak mudah goyah dan rapuh. Dan, dasar itu adalah visi dan misi hidup yang benar dari seluruh anggota keluarga, komitmen keislaman yang kokoh, persepsi utuh tentang keluarga dari masing-masing anggota dan membangun keterpaduan dan kemitraan dalam keluarga. 

Untuk menciptakan agar keluarga memiliki daya tahan tinggi, maka perlu dipersiapkan dasar-dasar kehidupan berkelurga. Visi dan misi hidup yang benar. Pengetahuan yang dimiliki setiap anggota keluarga tentang visi dan misi hidup akan menjadi dasar ketahanan rumah tangga. Hal itu akan menjadikan mereka lebih mudah mengatasi setiap masalah dan konflik dalam rumah tangga, karena telah mengetahui dan menyadiri akan visi dan misi hidup.  

Komitmen keislaman yang kokoh. Komitmen ini akan menjadi antibodi dari setiap hal yang mengganggu soliditas kehidupan rumah tangga. Virus kejahiliyahan apapun yang ingin merongrong dan menghancurkan ketahanan rumah tangga akan mudah di atasi dengan komitmen ini. 

Rasullullah SAW dalam menyelesaikan konflik rumah tangganya dengan istri, Aisyah saat terjadi hadistul ifki (berita bohong) beliau merujuk kepada wahyu yang dengannya masalah beliau menjadi cair dan selesai dengan baik. 

Persepsi yang utuh tentang rumah tangga. Pengetahuan dari masing-masing anggota keluarga tentang esensi rumah tangga Islami menjadi modal dasar terhadap ketahanan keluarga. Bahwa rumah tangga bukanlah hanya kumpulan dari ayah, ibu dan anak-anak semata. Lebih dari itu, keluarga memiliki tugas kolektif merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah tangganya untuk kemudian ditransfer kepada masyarakatnya. 

Akhirnya dapat dikatakan bahwa era digital yang menautkan jarak antar-benua dan manusia dengan segala etnis, harusnya membawa efek kuat dalam meneguhkan hubungan keluarga. Modernisasi yang meniscayakan komunikasi murah dan mudah tentu harusnya dapat memperkokoh kehidupan keluarga.

Namun, salah persepsi, sesat pikir, rendahnya kualitas komunikasi dan terbatasnya keutuhan informasi menjadikan keluarga banyak yang bermasalah. Ada keluarga yang runyam, tidak bahagia dan keluhan lainnya. Semoga dakwah keluarga menjadi perhatian dan pilihan guna menjadikan bangsa Indonesia bahagia dan sejahtera. (*)

LOGIN untuk mengomentari.