Beranda Nasional Kerukunan Bangsa Harga Mati

Kerukunan Bangsa Harga Mati

27
0
BERBAGI

Hari Waisak harus menjadi daya dorong umat untuk melatih membersihkan diri terus menerus sehingga hati tercerahkan agar bisa menghadapi kegelapan yang telah berlangsung lama sekali.

MAGELANG – Kerukunan umat beragama di Indonesia menjadi harga mati yang harus terus digelorakan oleh seluruh komponen masyarakat tanpa kecuali. Penegasan ini disam­paikan Ketua Dewan Pembina Perwakilan Umat Buddha In­donesia (Walubi), Murdaya, di sela-sela rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2019, di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jateng, Jumat (17/5).

“Saya tandaskan bahwa negara Indonesia kalau mau maju harus berani mati men­jaga, memelihara, memupuk, dan mempertahankan keruku­nan umat beragama. Itu pula yang menjadi tekanan peringa­tan Waisak tahun ini, di mana umat Buddha harus ikut serta merawat kerukunana umat beragama seluruh Indonesia,” tandas Murdaya.

Ketika ditanya kaitan perin­gatan hari Waisak dengan situ­asi perpolitikan bangsa Indo­nesia dewasa ini, suami Ketua Walubi, Hartati Murdaya ini menuturkan, justru di sinilah urgensinya peringatan Tri Suci Waisak yaitu agar menyejuk­kan, menenangkan, dan me­nenteramkan bangsa. “Perin­gatan Waisak amat perlu guna memberi kesejukan bangsa setelah ‘panas-panas’ berpoli­tik,” tandas tokoh yang biasa dipangggil Pak Po ini.

Ketika dikonfirmasi, apakah dia tidak khawatir menjelang pengumuman hasil Pilpres 2019, Murdaya dengan tegas menjawab tidak. Hal itu biasa terjadi tiap lima tahun. Jadi, ti­dak perlu khawatir. Yang pen­ting sekali lagi, bangsa ini bisa mempertahankan kebinekaan. Kalau kehidupan beragama ru­kun, negara akan tenteram.

Semua akan baik-baik saja. “Semoga peringatan hari Wai­sak dapat memberi ketedu­han,” harap Murdaya.

Memberi Keberkahan

Harapan senada disam­paikan Dirjen Bimas Buddha, Cahayadi. Dia berharap per­ingatan Tri Suci Waisak dapat memberi keberkahan umat Buddha dan seluruh bangsa. “Kita berharap hari Waisak mampu membawa keberkahan dan kesejahteraan bangsa In­donesia,” tandas Dirjen.

Untuk itu Cahayadi memo­hon agar seluruh umat Buddha yang merayakan Tri Suci Wai­sak sungguh-sungguh melak­sanakannya secara khidmat dan khusuk agar membawa berkah.

Sementara itu, Ketua Walu­bi, Siti Hartati Murdaya, meng­ingatkan panitia telah men­gadakan upacara pengambilan air dan api abadi. Ini bagian tak terpisahkan peringatan hari Waisak. Air dan api telah di­doakan para rohaniawan dan anggota majelis sehingga bisa menjadi sumber pencerahan umat. “Api lambang pencera­han dan bagian penting dalam kehidupan manusia,” katanya.

Menurut Hartati, para bhiku, sangha, dan majelis telah men­doakan api dan air agar menjadi sarana puja. Dalam puja harus diingat sang Buddha yang ber­hasil melawan sang aku, hawa nafsu dan kebodohan yang akhirnya mencapai pencerahan.

“Untuk itu, umat Buddha juga harus mampu mengalahkan sang aku alias ego. Kita harus mengalahkan hawa nafsu dan kebodohan supaya juga menca­pai pencerahan,” kata Hartati.

Lebih jauh Hartati mengata­kan hari Waisak menjadi mo­mentum latihan terus.menerus melawan ego dan kejahatan karena kegelapan sudah me­nguasai dunia dalam kurun sa­ngat lama.

Dia lalu menyampaikan ‘ke­bajikan’ di mana konon kalau orang berbuat baik pada hari Waisak, anugerahnya 150.000 kali dibanding kalau berbuat baik pada hari biasa. “Namun, sebaliknya, kalau ada yang ber­buat jahat pada hari raya Waisak, hukumannya juga 150.000 kali lipat daripada perbuatan jahat di hari biasa,” ujar Hartati.

Setelah kemarin dilaksana­kan doa di depan altar Mendut, hari ini akan dilangsungkan puncak peringatan Tri Suci Waisak. Salah satu rangkaian puncak acara adalah prosesi dari Candi Mendut ke Borobu­dur mulai pukul 13.30. Acara malam dengan sambutan uta­ma Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin dan detik-detik Waisak, setelah umat menerbangkan lampion berisi doa-doa dan syukur.

Peringatan hari Waisak juga menjadi medan toleransi dan kerukunan seperti diungkap­kan Murdaya. Hal itu, antara lain terlihat begitu banyak umat Muslim dan Kristiani yang menjadi relawan baik se­lama rangkaian kegiatan bakti sosial maupun penyambutan kedatangan air puja dan api abadi serta prosesi. wid/N-3