Beranda Nasional Partai Berbasis Islam Harus Berbenah Diri untuk Tingkatkan Elektabilitas

Partai Berbasis Islam Harus Berbenah Diri untuk Tingkatkan Elektabilitas

202
0
BERBAGI

 

Untuk mengupas soal ini, Koran Jakarta mewawancarai Direktur Politik Hukum Wain Advisory Indonesia, Sulthan Muhammad Yus, Senin (22/12). Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana kiprah partai berbasis agama?

Partai Islam merupakan partai yang ideologinya berbasis Islam. yaitu partai yang mendasarkan perjuangan politiknya pada kepentingan bangsa terkhusus bagi umat Islam. Biasanya, parpol Islam ini identik dengan lambang keislaman. Kiprahnya sendiri jika dilihat dari sejarah awal berdirinya partai Islam, terdapat sedikit kerancuan. Dalam arti, meski mengatasnamakan Islam, namun kurang menyuarakan umat Islam. Terlebih ada kerancuan mengingat sejak pertama kali berlangsungnya Pemilu 1955 hingga yang terakhir Pemilu tahun 2019, partai Islam belum pernah sekalipun memenangkan pemilu.

Jika begitu, bagaimana dengan peta perpolitikannya?

Pada Pemilu 2019, partai Islam gagal memenuhi top 3 perolehan suara. Capaian terbesar diraih oleh PKB dengan 9,69 persen suara yang mengantarkan PKB diurutan keempat dari total 16 partai politik nasional peserta pemilu. Selanjutnya, keenam PKS, disusul PAN diurutan kedelapan. Kemudian PPP serta ditutup oleh PBB diurutan empat belas. Namun sayang, PBB gagal mengantarkan wakilnya ke Senayan. Berdasarkan komposisi di atas, ini perlu menjadi evaluasi seluruh partai politik berbasis Islam. Apalagi sulit menemukan perbedaan di antara parpol tersebut.

Kalau sulit dibedakan, bagaimana dengan keunggulannya?

Nah di sini yang semakin abuabu. Di dalam AD/ART masing-masing partai bisa dilihat dan mudah dibedakan. Tetapi jika kita merujuk pada langkah dan kebijakan politik masing-masing partai, semua menjadi tidak jelas. Karena arah kebijakannya cenderung mengikuti koalisi pemerintahan. Seperti kita ketahui bersama partai-partai dalam koalisi pemerintahan terdiri dari beragam basis ideologis. Efeknya menjadi lebih sulit ditemukan jenis kelamin masing- masing partai politik tersebut.

Lantas, apakah partai berbasis Islam menjadi partai yang dibutuhkan masyarakat?

Partai Islam masih dibutuhkan sebagai corong perjuangan politik umat. Akan tetapi, kelompok Islam juga banyak sekali. Ini kelompok yang mana dulu, berbeda kelompoknya maka berbeda pula afiliasi politiknya. Sebut saja, lanjutnya, PKB dengan PPP yang sama-sama berbasis pesantren dan NU. Muhammadiyah dianggap mendekat ke PAN. PKS dengan kelompok dan simpatisan ikhwanul muslimin-nya. Tapi kesemua kelompok tersebut juga ada di partai-partai yang berbasis nasionalis. Maka sekarang tidak ada lagi kesetiaan politik itu. Semua semakin liberal, dan masing-masing konstituen kerap berbeda pilihan di setiap pemilu.

Karena itu, partai berbasis Islam tidak kunjung naik elektabilitasnya?

Tidak ada kejelasan apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh partai-partai berbasis Islam tersebut. Ketidakjelasan ini membuat porsi dan posisi partai tidak terlihat. Jika demikian maka sama saja dengan partai lainnya, meskipun dalam koalisi harus tetap terlihat warna perjuangan politik keumatannya.

Kalau begitu, apa yang perlu diperbaiki?

Banyak. Pertama, merestrukturisasi partai. Pengkaderan hingga ke basis desa dengan mengedepankan fungsi berdemokrasi. Ketokohan juga menjadi hal lain, sebab sekarang ini masyarakat cenderung melihat tokoh bukan lagi partainya. Terakhir, parpol Islam perlu berbenah secara menyeluruh. yasir arafat/AR-3