in

Yuni Sa’e, Artis Minang Berdarah Bima NTB

Setahun Rampungkan Tiga Album

Meski ibundanya berasal dari Bima Nusa Tenggara Barat (NTB), tak menyurutkan keinginannya berkiprah  sebagai penyanyi Minang. Bahkan di usianya yang belum genap 17 tahun, dia sudah mengorbitkan lima album. Siapa dia?

Dialah Yuni Sa’e. Kemampuannya mendendangkan lagu Minang di tanah kelahiran ayahnya, tak lepas dari dukungan sang bunda. Lewat dukungan dan tangan dingin sang bunda dalam melatih olah vokal, membuat Yuni Sa’e bisa seperti sekarang ini.   
 
Lewat momentum Lebaran Idul Fitri 1438 Hijriyah lalu, Yuni Sa’e meluncurkan album kelimanya bertajuk album kompilasi menghadirkan sejumlah artis senior seperti An Roy’s, Leni, Rio Rinaldo, Rahmat dan Veni Sopati. Di antara  lagunya,  “Hati Nan Dilukai”, “Mamarai Aia Mato” dan “Dililik Gamang”.

“Alhamdulillah, Lebaran kemarin album kelima Yuni sudah beredar,” tuturnya ketika  dihubungi Padang Ekspres, Jumat (7/7). Rencananya, tahun ini Yuni Sa’e mengorbitkan tiga album baik duet kompilasi dan solo.

“Dua album sudah beredar dan satu lagi sudah selesai perekaman dan shooting. Targetnya, akhir tahun ini sudah diedarkan dengan 10 lagu,” ucapnya.

Yuni Sa’e menuturkan, bakat menyanyinya sudah terlihat ketika dia masih duduk di bangku kelas V SD. Barulah tahun 2010, Yuni mengorbitkan album perdana remix dendang dengan hits “Sadang Sayang Bapatangihan” dan “Sarantau Sasurambi”.

Lima tahun berselang, pemilik nama Yuniarti Dwi Putri itu kembali mengorbitkan album kedua. “Memang ada jedanya (album kedua, red), namun tetap bernyanyi kok,” ucap penyanyi muda yang mengidolakan Elsa Pitaloka itu. Album kedua ini bertajuk “Sambilu Cinto”. 

Tahun lalu, Yuni mengorbitkan album ketiga berduet dengan Alam Batuah, salah satunya berjudul  “Indak Mungkin”. Lalu, awal tahun ini, Yuni mengorbitkan album duet bersama Jhoni BS, album dendang Minang dengan lagu andalan  “Cameh Kumbang Tabang Tinggi”.

“Yuni lahirnya di Kupang dan besar di Sumbar. Sedangkan mama asalnya Bima, mama suka bernyanyi dan sering manggung. Lama kelamaan, Yuni tertarik dan belajar bersama mama,” aku Yuni yang menetap di Muarolabuh Solok Selatan itu.

Meski belajar bernyanyi bersama sang mama yang menguasai lagu-lagu daerah Kupang dan Bima. Namun, Yuni justru lebih tertarik menekuni lagu Minang. “Mama juga sangat suka lagu Minang dan Yuni sering mendengarkannya. Sehingga, sering manggung dan mengikuti festival sejak kecil,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Dara kelahiran 19 Agustus 2000 itu menuturkan, awal pertama masuk dapur rekaman berkat keberuntungan. Semuanya berawal ketika dia menyanyikan lagu ciptaan Dea Adam dalam salah satu perlombaan. Meski tidak menang, Dea Adam yang waktu itu menjadi juri, mengajaknya bergabung untuk diorbitkan album.

“Ketika lomba, Yuni nyanyi lagu Dea Adam. Usai acara dan pengumuman pemenang, Yuni diajak bertemu dan diajak masuk dapur rekaman,” tutur siswi kelas XII SMKN 1 Solok Selatan itu.

Sejak itulah, dia semakin memantapkan diri bernyanyi dan berlajar tanpa mengesampingkan pendidikan utamanya. Baginya, pendidikan akan terus digapai dan hobi bisa tetap disalurkan.

Putri pasangan Jhon Kardi dan Yusmarni Herawati itu berharap lebih baik dan albumnya diterima masyarakat. “Semoga tuhan meridhai apa yang Yuni lakukan dan dapat menggapai apa yang Yuni mimpikan,” ucapnya. (*) 

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

CAROUSELL , TEMPAT TERBAIK UNTUK MEMBUAT BARANG PRE-LOVED MENJADI LEBIH BERMANFAAT

Kawasan Emas Surija