in

47 Buruh Tewas Terbakar

Terjebak dalam Kebakaran Pabrik Petasan

Sungguh menyedihkan. Sebanyak 47 buruh tewas terbakar dan 46 lainnya luka-luka dalam kebakaran hebat pabrik petasan di pergudangan 99, Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Kamis (26/10) pagi.

Kebakaran di pabrik yang memiliki 103 buruh itu begitu mengerikan. Saksi mata, Agus mengatakan saat kejadian dia hanya berada sekitar 10 meter dari gerbang pabrik PT Panca Buana Cahya. Dia sedang bersantai dengan sejumlah anggota Brimob dari Kalimantan Barat yang kebetulan disiagakan di Kosambi untuk mengantisipasi demonstrasi warga Dadap. Dua kompi personel Brimob itu beristirahat di salah satu rumah ibadah yang terletak di depan gerbang pabrik.

Ketika mereka sedang bersantai, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras dari pabrik. Suaranya seperti bom. ”Saking kerasnya ledakan, saya sama beberapa Brimob sampai tiarap,” kata Agus, Kamis (26/10).

Kemudian, lanjut Agus, api berkobar dan asap hitam mengepul di gudang petasan tersebut. Terjadi beberapa ledakan susulan. Tak lama kemudian, pegawai di dalam gudang tersebut berlarian menyelamatkan diri. Beberapa berlari dalam kondisi tubuh terbakar. Warga sekitar kemudian berdatangan ke arah gudang tersebut. Mereka lalu menjebol tembok pabrik untuk memudahkan korban keluar.

Warga Desa Belimbing, Yasin Roy mengatakan, sebelum terjadi kebakaran, terlebih dahulu ada ledakan yang sangat keras terdengar hingga radius 1 kilometer. ”Saat terjadi kebakaran, saya langsung melihat ke lokasi banyak karyawan yang mencoba keluar dengan cara memanjat tembok,”  tuturnya.

Anggota Brimob Kalbar, Bripka Bagus Baskoro mengatakan, ledakan terjadi di tengah–tengah pabrik. Dia dan anggota Brimob yang lain menjebol tembok untuk menyelamatkan para buruh. 

”Kami menjebol tembok di sebelah pabrik karena mendengar teriakan minta tolong dari dalam. Kami jebol dengan peralatan seadanya,” ujar Bagus, tadi malam.

Pabrik tersebut memiliki dua ruangan. Ruangan pertama letaknya dekat pintu keluar, tak memiliki atap dan menjadi tempat para pekerja menghitung jumlah petasan. Ruangan kedua lokasinya di belakang, memiliki pintu tersendiri dan digunakan untuk pembuatan petasan.

”Ledakan dan kebakaran terjadi di tengah gedung antara ruangan pertama dan kedua. Para buruh di ruangan kedua terjebak dalam insiden ledakan dan kebakaran sehingga banyak korban tewas,” imbuh Bagus.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tangerang, Agus Suryana menyatakan, kebakaran di Kosambi merupakan bencana dengan korban jiwa terbanyak. Walaupun, imbuh Agus, kebakarannya bukan yang terbesar. BPBD Kabupaten Tangerang, menurunkan 6 mobil pemadam kebakaran dan dua unit tangki air. Jumlah personel yang diterjunkan mencapai 40 orang.

Laporan kebakaran diterima BPBD pukul 09.30 pagi atau 30 menit setelah kebakaran. Petugas tiba di lokasi sekira pukul 09.45 pagi. Ketika sampai di lokasi, gerbang pabrik dalam keadaan terkunci. Mereka pun membuka paksa gerbang tersebut. ”Begitu masuk ada ledakan besar. Petugas saya yang pakai antiapi saja sampai terpental,” imbuhnya.

Agus menduga, para korban tewas karena terkena ledakan. Sebab, kebakarannya tidak berlangsung lama. Petugas sudah melakukan pendinginan pada pukul 13.00.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Idham Azis kemarin sore menuturkan, tercatat 47 korban tewas dalam peristiwa kebakaran tersebut. Jenazah korban tidak bisa lagi dikenali karena sudah dalam kondisi hangus. ”Sementara sudah ditemukan 47 orang,” kata Irjen Pol Idham Azis, Kamis (26/10).

Para korban tewas tersebut dibawa dengan kantong jenazah berwarna oranye untuk dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati. Untuk memudahkan mengidentifikasi para korban, polisi telah mendirikan tenda untuk para keluarga korban.

Polisi meminta warga yang merasa keluarganya bekerja di pabrik petasan tersebut dapat membawa identitas secara lengkap. Hal tersebut untuk mengenali para korban yang tewas secara mengenaskan.

”Jenazah korban tewas dalam kondisi mengenaskan hingga susah dikenali. Polisi setidaknya butuh data korban,” ujar Idham.
Tim Gegana Polda Metro Jaya saat ini masih melakukan penelusuran terkait terbakarnya pabrik petasan tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengetahui penyebab awal terjadinya peristiwa mengenaskan yang menimpa banyak korban.

Sejauh ini, data korban tewas mengenaskan sebanyak 47 orang dan 46 orang lainnya luka-luka. Para korban luka dibawa ke 3 rumah sakit. Lima orang dirawat di RS Mitra Husada, 34 orang dirawat di RS BUN dan 7 orang dirawat di RSU Kabupaten Tangerang.

Humas RSU Kabupaten Tangerang, Ade Yudhi menyatakan, seluruh korban yang dibawa mengalami luka bakar antara 30 persen hingga 85 persen. Salah satu di antaranya harus menjalani operasi karena saluran pernafasannya terluka.

”Korban kini sedang dan masih kami tangani, ada tujuh korban yang dilarikan ke RSU Kabupaten Tangerang. Masih ada yang berada di IGD dan sudah ada yang dibawa ke ICU,” ujar Yudhi. 

Seluruh Korban Sudah Dievakuasi

Sampai pukul 21.00 tadi malam, olah TKP masih dilangsungkan oleh tim gabungan dari Polda Metro Jaya, Polda Jabar dan Polsek Tangerang. Sejak pukul 18.00, seluruh jenazah, tulang belulang dan bekas tubuh dari para korban telah selesai dievakuasi dari pabrik ke RS Polri Kramat Djati untuk dilakoni pemeriksaan. Sementara untuk korban luka, saat ini dirawat di RS Bunda dan RS Mitra Tangerang.  

Dari informasi yang dihimpun, 103 orang terdaftar bekerja di pabrik tersebut. 93 berhasil diidentifikasi. Sebanyak 47 orang meninggal dan 46 orang luka-luka. Sementara 10 orang lainnya belum diketahui keberadaannya. Wakapolda Metro Jaya Brigjen Polisi Purwadi datang ke lokasi pada pukul 20.30 untuk melihat secara langsung proses pendinginan dan olah TKP. 

Purwadi menyatakan, 10 korban yang hilang akan diselidiki dengan melakukan interview pada korban dan saksi-saksi yang masih hidup. Namun, ia mengungkapkan pihak kepolisian masih akan berfokus pada pertolongan dan evakuasi korban. ”Bisa saja mereka lagi izin tidak masuk kerja kan kita tidak tahu,” katanya.  

Kepolisian akan  melakukan penyelidikan secara ilmiah agar penyebab kebakaran, asal titik api dan penyebaran bisa segera menjadi terang. Suwandi menyatakan bahwa penyelidikan akan dilanjutkan hari ini, karena lokasi TKP masih panas dan tertutup abu.

Bagi warga yang merasa memiliki keluarga yang bekerja pada pabrik, Purwadi mengimbau agar segera mendatangi RS Polri dengan membawa petunjuk-petunjuk berupa identitas, dan rekam medis terakhir yang bisa memudahkan penyelidikan. ”Misalnya kapan terakhir periksa gigi, di klinik mana,” katanya. 

Soal izin, Purwadi mengaku belum mengetahui secara pasti. Pihaknya belum mengecek secara langsung izin pabrik tersebut. Menurut warga sekitar aktivitas pabrik tersebut memang senantiasa tertutup. 

”Waktu kejadian kemarin pabrik dikunci, kalau seandainya tidak saya yakin banyak yang selamat,” kata Maskota, Kepala Desa Blimbing. 

Menurut Maskota, Pabrik tersebut baru beroperasi sekitar 2 bulan. Pemilik pabrik belum pernah sekalipun berkomunikasi dengannya. Apalagi meminta izin. Ia sendiri tidak menyangka kalau pabrik tersebut memproduksi kembang api. ”Yang saya dan warga tahu, di situ cuma pabrik ayakan pasir saja,” katanya. 

Biaya Perawatan Relatif Mahal 

Sementara itu, menurut Ketua Forum Pers RSUD dr Soetomo Surabaya dr Urip Murtedjo SpB-KL, perawatan luka bakar untuk korban yang masih hidup, butuh biaya mahal. Sebab, ada banyak hal yang harus dikerjakan untuk menangani pasien dengan kondisi tersebut. Apalagi jika luka bakarnya di atas 50 persen yang masuk dalam kategori luka bakar berat. ”Kalau tidak ada jaminan kesehatan, biayanya sangat mahal. Bisa sampai ratusan juta,” ujarnya.

Biaya tersebut untuk barang habis pakai seperti obat antibiotik, obat bius, cairan elektrolit, albumin darah, serta biaya skin graft (cangkok kulit) bagi yang luka bakarnya sampai ke otot. Skin graft ini tidak serta merta hanya untuk memperbaiki penampilan. Tetapi, juga untuk membantu menghilangkan jaringan parut yang akan membuat kulit menjadi kaku. Fisioterapi pun masih harus dilakukan.

Sementara itu, dokter spesialis bedah plastik RSUD dr Soetomo, dr Iswinarno Doso Saputro Sp.BP-RE (K) pun menambahkan jika waktu yang dibutuhkan untuk sembuh pada luka bakar berat sedikitnya dua bulan. ”Tapi tergantung dalamnya luka. Kalau sampai otot bisa lebih dari 3 bulan. Itu kalau berhasil bertahan,” papar dokter yang sering menangani luka bakar tersebut. Umumnya, setiap 1 persen luka bakar membutuhkan perawatan setidaknya satu setengah hari. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by Julliana Elora

Kesaksian Kesatuan Brimob Berjuang Menyelamatkan Korban

Meikarta Topping Off Dua Tower