in

5 MATA UANG VIRTUAL YANG PALING DI BURU

1. Litecoin
Mata uang berlabel LTC ini merupakan salah satu “peniru” Bitcoin pertama. Jika Bitcoin adalah “emas”-nya mata uang kripto, Litecoin ini adalah “perak”-nya. Diluncurkan pada tahun 2011 oleh eks insinyur Google Charlie Lee, Litecoin memiliki karakteristik yang sama dengan Bitcoin sebagai mata uang kripto; terdesentralisasi dan peredarannya tidak diatur otoritas. Selain itu, Litecoin baru bisa didapat dengan cara yang sama dengan memperoleh Bitcoin baru, yakni melalui proses mining atau penambangan.

litecoin

Akan tetapi, Litecoin mining tidak memerlukan perangkat super seperti halnya pada penambangan Bitcoin. Algoritmanya lebih mudah dipecahkan dan blok Litecoin tercipta dalam durasi 2.5 menit, jauh lebih cepat dari blok Bitcoin yang memerlukan waktu 10 menit. Kemudahan mining yang dapat mendukung lebih banyak transaksi dalam waktu singkat itulah yang menjadi kelebihan Litecoin.

Di sisi lain, nilai Litecoin masih cukup kesulitan menyusul Bitcoin yang sudah mencapai kisaran $500, bahkan pernah menyentuh level $1000. Di akhir kuartal pertama 2017, harga per 1 Litecoin hanya berada di kisaran $15. Supply Litecoin pun lebih banyak daripada Bitcoin, karena pembuatan LTC baru akan dibatasi ketika jumlah yang beredar sudah mencapai 82 juta. Hal ini tentu berbeda jauh dengan Bitcoin yang dikonsep untuk berhenti tercipta ketika jumlahnya mencapai 21 juta.

2. Ethereum
Ethereum memiliki keunikan yang membuatnya berbeda dari altcoin lain. Pada dasarnya, mata uang berlambang ETH ini adalah platform software yang bisa di-coding sendiri dan diaktifkan melalui sistem blockchain oleh para developer-nya. “Processing power” dari software ciptaan developer itu kemudian dijual dan dibayar dengan ether, atau mata uang mirip Bitcoin.

Meski baru dirilis tahun 2015, perkembangan Ethereum bisa dikatakan sangat cepat. Saat ini saja, kapitalisasi market Ethereum (sekitar 1 milyar dolar) sudah menyalip altcoin lain yang meluncur lebih dulu, dan berbaris di posisi kedua setelah Bitcoin. Cara Ethereum mengatasi serangan hack pun cukup unik. Setelah sistemnya diretas pada 2016 silam, Ethereum membelah diri menjadi Ethereum “baru” (sudah bebas dari hack) dan Ethereum Classic (platform lama yang masih terimbas serangan hacker).

Meski sudah terbagi ke dalam 2 jenis, nilai Ethereum tidak berkurang drastis. Kedua jenis Ethereum tersebut sama-sama mengalami pertumbuhan nilai, terbukti dari kapitalisasi Ethereum Classic yang masih tumbuh hingga kini mencapai 141 juta Dolar. Praktis, Ethereum baru dan Ethereum Classic masing-masing menduduki posisi 2 dan 4 dalam daftar altcoin terbesar di dunia.

3. Dogecoin
Dirilis di tahun 2009, usia Dogecoin sebenarnya tak terpaut jauh dari Bitcoin. Hanya saja, mata uang kripto ini sejak awal sudah dikonsep untuk user-friendly, baik dari segi penggunaan, penambangan, maupun kelas harga. Jadi meskipun Dogecoin disebut-sebut telah mengalami kemajuan pesat, kapitalisasinya tetaplah yang terendah di antara altcoin lain, yaitu sekitar 25 juta Dolar.

Penambang Dogecoin bisa memproses transaksi dengan mudah dan hanya dalam 1 menit. Selain itu, tak ada limit jumlah Dogecoin yang bisa ditambang, meski di beberapa sumber disebutkan bahwa ada batasan sejumlah 100 milyar. Besaran suplai yang hampir tak terbatas praktis membuat nilai Dogecoin sangat rendah, cuma setara $0.67 per 1 DOGE (lambang mata uang Dogecoin). Meski harganya sangat kecil untuk seukuran mata uang kripto, Dogecoin tetap memiliki banyak penggemar karena relatif ramah pengguna dan bisa mendatangkan passive income bagi kelompok penambang yang lebih luas.

4. Dash
Dash sebetulnya merupakan perpanjangan tangan dari Bitcoin. Kemunculannya berakar dari keinginan beberapa developer Bitcoin untuk memperbaiki kekurangan mata uang digital tersebut, terutama dalam hal anonimitas dan kecepatan transaksi. Upaya itu pada akhirnya berujung pada penciptaan mata uang kripto baru yang masih berbasis pada software Bitcoin, yaitu Dash.

Selain lebih unggul dalam hal jaminan privasi dan transaksi instan, Dash juga menggunakan Masternodes, suatu sistem yang dirancang untuk meningkatkan sekuritas transaksi. Sebagai informasi, Masternodes dapat menghindarkan pengguna dari upaya pemalsuan dan manipulasi transaksi dengan memindai Blockchain dua kali.

5. Peercoin
Peercoin atau PPC adalah mata uang kripto yang penambangannya tidak bekerja dengan sistem proof of work, tapi proof of stake. Artinya, seorang pengguna tidak perlu bekerja membantu transaksi apapun untuk mendapatkan Peercoin baru, karena ia bisa memperolehnya dengan menyimpan uang yang bersangkutan saja.

Sistem itu dapat menghindarkan sistem Peercoin dari manipulasi sepihak. Faktanya, sistem penambangan proof of work Bitcoin memang bisa memberikan kontrol besar bagi siapapun yang mempunyai 51% power komputer mining. Sementara itu, untuk bisa memiliki kendali yang sama, seorang pengguna Peercoin harus bisa mendapatkan hal mustahil, yakni menguasai minimal 51% uang yang beredar di sirkulasi.

Peredaran Peercoin tidak dibatasi seperti halnya Bitcoin, yang uang barunya akan berhenti muncul setelah total di sirkulasi mencapai 21 juta. Untuk saat ini, nilai Peercoin masih setara dengan $2.60. Proses penemuan uang baru cenderung lama, menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Meski demikian, reward Peercoin mining sangat besar (100 PPC) dan uang yang diperoleh akan terus bertambah nilainya seiring dengan berjalannya waktu, karena adanya sistem proof of stake yang diandalkan di sini.

kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya,

What do you think?

Written by Julliana Elora

Wow!! Terbongkar Trick Internet Gratis Telkomsel – Terbukti Work

Percobaan dengan Tikus Jantan