in ,

Ada Irene di Buku Maspril

Dudy Oskandar (BP/Dudy Oskandar)

Oleh : Dudy Oskandar (Jurnalis dan

Peminat Sejarah Sumatera Selatan )

MEMBACA  sering terlihat sebagai kegiatan yang sangat sederhana. Tetapi sebenarnya membaca adalah kegiatan yang rumit.

Ketika membaca, kita bukan hanya semata-mata menyuarakan simbol-simbol dalam bentuk tulisan. Bisa saja kita menyuarakan itu dengan dengan atau tanpa memahami apa yang kita baca. Kegiatan menyuarakan simbol-simbol tertulis memang bisa kita sebut membaca.

Selama ini buku dikesankan sekedar pelengkap dalam dunia pendidikan, juga dalam kehidupan masyarakat. Buku belum merupakan sesuatu yang wajib atau menjadi syarat dalam pembelajaran mandiri atau dalam kehidupan masyarakat.

Buku memiliki peranan penting baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pendalaman pemahaman akan konsep dan ilmu pengetahuan. Sebagai media dan sumber pembelajaran, buku mampu mentransformasikan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan kompetensi dan profesionalitas diri. Mencintai buku adalah mencintai kemajuan dan kemanusiaan.

Baca Juga:  Menolak Diajak Rujuk, Nenek 61 Tahun Dianiaya Mantan Suami

Bagi Maspril menulis dan membaca adalah bagian hidup yang tidak kenal istilah pensiun. Dan terlebih baginya, menulis adalah terapi kehidupan. Menerbitkan buku adalah legacy dari profesi wartawan.

Buku berjudul Irene dan Jazz Sungai: Kitab Opini Maspril Aries yang diterbitkan Pustaka LaBRAK & Kaki Bukit Literasi membuktikan legacy seorang Maspriel , Tenaga Ahli Pers ini mengajak kita untuk memahami makna berkesenian  dan makna berkebudayaan di Sumatera Selatan (Sumsel) .

Baca Juga:  SMK Tamansiswa 1 Palembang Gelar Sosialisasi Pendampingan COE

Buku ini menggambarkan kegalauan seorang Maspril dalam melihat iklim kesenian dan berkebudayaan di Sumsel di masa lalu dengan orang-orang yang berbeda.

Salah satu orang yang berbeda itu adalah Dr. Irene Camelyn Sinaga, AP, M.Pd, mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel  sejak tahun 2015. Dan sejak tahun 2018 menjabat sebagai Direktur Pembudayaan pada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila di Jakarta.

Irene memiliki makna sendiri bagi Maspriel dalam bukunya tersebut sehingga dijadikan judul bukunya tersebut. Irene juga meninggalkan tinta emas dalam pengembangan pariwisata dan kebudayaan di Sumsel .

Sesungguhnya masa purna bhakti tidak mengakhiri pengabdian seseorang  kepada bangsa dan negaranya. Pengabdian seorang akan  terus berlangsung selama hayat di kandung badan.

Baca Juga:  UAS Ajak Umat Beribadah Dengan Sempurna Seolah Itu Ibadah Terakhir

Ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan eksistensi Irene adalah seperti ungkapan Jenderal Douglas MacArthur, Pahlawan Amerika dalam Perang Dunia II. Jenderal Douglas MacArthur mengatakan “The old soldier never die, they just fade away” (yang artinya bahwa seorang prajurit tidak akan pernah berpulang namun hanya menyisih untuk memberi kesempatan pada generasi berikutnya, “kata Jenderal Douglas MacArthur dengan tegar, ketika dia kembali dari Perang Korea tahun 1951 dan diminta berpidato di depan Kongres Amerika.  Ucapan yang dahsyat itu kemudian dikenang sepanjang masa hingga sekarang.#

What do you think?

Written by Julliana Elora

Demi Judi Slot Pasangan Kekasih  Ini Kompak Larikan  Motor Korban

Satu Mujikari, Satu PSK, Digelandang Pol PP dan Damkar Pessel