in

Aroma balas dendam di semifinal IBL 2017

Jakarta (ANTARA News) – Tidak ada kejutan pada babak “playoff” Liga Bola Basket Indonesia (IBL) Pertalite 2017 karena pada pertandingan yang diadakan di Surabaya dan Bandung, dua tim kandidat juara CLS Knights Surabaya dan W88.News Aspac Jakarta berhasil melaju ke semifinal.

Mereka berhasil menaklukkan dua klub yang sebelumnya berharap menggoyahkan prediksi banyak orang tentang potensi tim unggulan, Bank BJB Garuda Bandung serta Pacific Caesar Surabaya.

Pada empat besar yang berformat “best of three” dan sistem kandang-tandang, sang juara IBL 2016 CLS Knights Surabaya akan bertemu dengan Satria Muda (SM) Pertamina pemuncak klasemen Divisi Merah IBL 2017. Laga semifinal Divisi Merah ini digelar pada 21-24 April 2017 dimulai dari kandang CLS, GOR Kertajaya, Surabaya.

Sementara semifinal Divisi Putih pada 27-30 April 2017, W88.News Aspac Jakarta menjajal kekuatan Pelita Jaya (PJ) Energi Mega Persada Jakarta. Karena kedua tim sepakat bermarkas di Bandung, seluruh laga ini digelar di GOR C-Tra Arena, Bandung.

Para pencinta bola basket nasional pasti langsung “ngeh” melihat partai-partai yang tersaji di semifinal edisi terbaru IBL ini. Ya, dua laga tersebut adalah laga ulangan babak “final four” IBL 2016.

Ketika itu CLS Knights mengangkangi SM dengan skor pertandingan 2-0 di semifinal “best of three” untuk melaju ke final IBL 2016. Mario Wuysang dan kawan-kawan kemudian menghadapi Pelita Jaya yang menundukkan Aspac di empat besar, juga dengan kemenangan dua laga playoff langsung.

Sejarah itu membuat aroma balas dendam berhembus tajam jelang perebutan kursi final IBL 2017. Simak saja pernyataan pelatih SM Youbel Sondakh menanggapi pertemuan timnya dengan CLS.

“Masih ada rasa mengganjal dengan CLS karena tahun lalu kami kalah dari mereka di semifinal. Jadi ada keinginan membalas kekalahan tersebut,” kata Youbel.

Sementara kubu Aspac juga mengincar kemenangan dari Pelita Jaya. Pelatih Aspac Antonius Ferry “Inal” Rinaldo sangat mewaspadai lawan rival sekota-nya tersebut.

Inal sendiri yakin pihak PJ sudah memantau permainan timnya, terutama kala mengalahkan Pacific Caesar Surabaya di playoff.

“Pelatih kepala PJ, Johannis Winar sudah memantau dua pertandingan kami melawan Pacific tersebut. Sudah pasti kami ingin balas dendam dan mengalahkan PJ,” ujar Inal.

Berbeda meski sama
Hasil di semifinal IBL 2016 tidak serta merta membuat hasil “final four” IBL 2017 bisa diprediksi dengan mudah. Sebab utamanya, meski partai di semifinal tahun ini serupa dengan 2016, peta kekuatan tim-tim itu sudah berbeda.

Kecuali CLS yang masih dikepalai pelatih yang sama, tiga tim lain SM, Aspac dan Pelita Jaya tidak lagi ditangani oleh pelatih yang sama di tahun 2016. Ketika menjejak semifinal di tahun Monyet Api, SM dilatih oleh Cokorda Raka Satrya Wibawa, Aspac dipimpin oleh Jugianto Kuntarjo sementara Pelita Jaya dinakhodai Benjamin Alvarezsipin III.

Namun perubahan drastis justru datang dari sektor pemain, yaitu keempat tim tersebut memiliki dua pemain asing hasil dari peraturan baru IBL mulai musim 2017. Selain itu, susunan kekuatan pemain lokal juga sudah berubah dengan perekrutan pemain-pemain anyar dan keluarnya penghuni-penghuni lama.

Nama-nama berpengaruh pada kebangkitan timnya di tahun 2016 seperti point guard Kelly Purwanto di PJ, center Rony Gunawan di SM, power forward naturalisasi Jamarr Andre Johnson di CLS dan Ebrahim Biboy Enguio Lopez di Aspac sudah tidak lagi membela klubnya masing-masing.

Peran vital mereka kini diambil alih oleh para pebola basket impor. Martavious Irving menjadi point guard andalan PJ, Carlos Smith kerap dipasang sebagai center SM, Willard Crew Jr menggantikan posisi Jamarr di CLS, sementara Dominique Williams selalu menjadi pendulang poin tertinggi bagi Aspac sejak kedatangannya.

Dengan komposisi pemain seperti itu, keempat tim yang berlaga di semifinal memiliki kualitas yang hampir setara. Lihat saja perolehan poin selama di musim reguler IBL 2017, di mana SM, CLS, Aspac dan PJ sama-sama punya rataan poin per-laga di atas 70 angka.

SM menjadi yang tertinggi dengan 77,57 poin per-laga (ppl), disusul PJ dengan 74,6 ppl, CLS 73,14 ppl dan Aspac 71,67 ppl.

Dari sisi pertahanan semasa babak reguler, keempat tim ini juga memiliki statistik berimbang. Salah satu indikatornya adalah total rebound di daerah pertahanan (“defensive rebound”). SM, CLS, Aspac dan PJ memiliki rataan di kisaran 35 rebound per-laga (rpl) dengan catatan tertinggi dimiliki CLS dengan 35,36 rpl, kemudian Aspac 35,07 rpl, Pelita Jaya 35 rpl dan SM dengan 34,86 rpl.

Fakta-fakta ini menunjukkan betapa Satria Muda, Aspac, Pelita Jaya dan CLS memiliki peluang seimbang untuk melaju ke final. Tidak ada kuda hitam dalam empat besar IBL 2017. Ditambah pemain-pemain impor dan asing berkualitas, hasil pertandingan semifinal bisa dikatakan akan banyak dipengaruhi adu taktik antar-pelatih.

Wahyu “Cacing” Widayat Jati di CLS, Youbel Sondakh di SM, Johannis Winar di Pelita Jaya dan Antonius Ferry “Inal” Rinaldo di Aspac harus memutar otak lebih keras mengatur strategi tim agar bisa melaju ke babak final IBL 2017.

Jadi, selamat menikmati laga-laga seru semifinal IBL Pertalite 2017, pencinta bola basket nasional!.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

What do you think?

Written by virgo

Berapa jumlah kendaraan lewat Bekasi tiap hari?

Petunjuk Teknis Pengisian Ijazah Dan SHUN Tahun 2017