in

Budaya Malu atau Malu Budaya

Judul tulisan ini membuat kita berpikir secara mendalam, budaya malu atau malu budaya? Yang pasti malu merupakan rem (menahan) batin dan sekaligus cambuk untuk meningkatkan prestasi. Boleh jadi kita malu terhadap diri kita sendiri, keluarga dan anak cucu, masyarakat, bangsa dan negara, tapi yang paling penting kita harus malu pada Allah SWT.

Lihatlah diri kita terlebih dahulu; otak yang bisa berpikir, mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, hati yang bisa merasa, dan seluruh tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung kaki, subhanallah Maha Suci Allah. Sungguh canggih ciptaan Allah yang bernama manusia ini. Allah ciptakan bumi dan langit, manusia dan segala isinya dengan tujuan yang benar. Tapi, manusialah yang sering menentang kebenaran, bahkan menolak kebenaran. Sebab ukuran kebenaran menurut kepentingannya, dirinya, dan kelompoknya masing-masing karena sebagian kita belum yakin sepenuhnya bahwa kebenaran yang sebenarnya itu datang dari Allah.

Tidak malukah kita terhadap diri sendiri? Yang belum bisa berbuat baik minimal mengatakan yang salah itu salah, dan yang benar itu benar. Sebab, salah satu inti dari ajaran agama kita yaitu ihsan (berbuat kebaikan). Inilah tujuan dari hidup kita dan inilah yang dinamakan ibadah. Apapun aktivitas kita di dunia ini kalau diniatkan beribadah kepada Allah di lingkungan manapun kita berada, pasti orang lain akan merasa aman, nyaman dan terlindungi. Inilah yang dinamakan ajaran Islam rahmatanlilalamin.

Kita harus malu dicap oleh Allah sebagai orang-orang atau manusia pendosa yang sangat berpihak pada kejahatan, pembohong, sombong, korupsi, loba, tamak, rakus, tidak menjaga kehormatan, pendengki, rasis, penyebar kebencian. Manusia seperti inilah yang tidak mengerti dengan rambu-rambu (batas-batas atau ajaran agama yang telah ditetapkan Allah). Manusia seperti inilah penebar kekacauan, bahkan teror yang membuat lingkungan tidak aman, bahkan dunia bisa tidak aman dibuatnya. Perbuatan seperti inilah penyimpangan yang luar biasa dari makhluk yang bernama manusia, akibat mengikuti langkah-langkah atau hawa nafsu setan. Kehancuran di dunia dan pasti dapat azab yang pedih di akhirat.

72 Tahun Merdeka

Sebagai evaluasi dan koreksi, mari kita melihat ke belakang; baik-buruk yang kita jalani secara berbangsa. Tentu ini sangat penting, yang buruk mari kita tinggalkan dan kita perbaiki, yang baik kita kembangkan secara terus menerus untuk lebih baik lagi. Itulah tugas-tugas kita ke depan. Namun, yang lebih penting mari menadah ke langit supaya Allah menunjukkan jalan yang lurus; jalan yang diridhai, bukan jalan yang dimurkainya, apalagi jalan yang sesat. Mari berdoa agar bangsa ini tidak menjadi bangsa yang memalukan dan bangsa yang terhina. 

Dalam agama Islam, setiap diri ini adalah pemimpin. Pemimpin dalam arti sebenarnya, yang menerima segala bentuk kebenaran dan menolak tegas segala bentuk kejahatan, sekaligus mendidik dan mengarahkan rakyat pada tujuan yang benar. Tentu saja dimulai dari diri sendiri, baik sebagai pemimpin keluarga, pemimpin umat, pemimpin masyarakat, pemimpin bangsa dan negara. Sehingga bisa diteladani anak cucu dan generasi penerus. Inilah masalah kita sekarang. Bangsa ini sudah dalam keadaan darurat pemimpin –pemimpin yang bisa diteladani di segala sektor, bahkan cenderung memalukan.

Kita boleh bertanya secara mendalam pada diri masing-masing; mampukah kita menjadi manusia teladan yang baik di manapun posisi kita? Kenapa pertanyaan ini perlu kita ajukan? Karena keteladanan sangat sulit didapatkan saat ini. Apa yang salah dengan diri kita? Apa yang salah dengan bangsa ini? Kita belum berhasil memproduksi manusia berkualitas yang bisa diteladani.

Keteladanan itu terletak pada kejernihan pikiran, kebersihan hati, dan keikhlasan dalam segala perbuatan dan gigih dalam menegakkan keadilan yang bisa dirasakan oleh seluruh rakyat. Di sinilah letaknya manusia yang bernilai. Kita harus bernilai di pandangan Allah. Selalu merawat hubungan baik, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Kita juga bisa bernilai di pandangan manusia dengan menjaga hubungan baik dengan siapapun. Ini bisa dikatakan manusia teladan sekaligus pemimpin yang teladan. Lalu muncul pertanyaan; mampukah negara kita melahirkan kepemimpinan yang bisa kita teladani dengan sistem demokrasi yang diterapkan saat ini? 

Penulis bukan anti-demokrasi, tapi ada yang salah dengan demokrasi. Kita pasti merasakan demokrasi kita seperti tidak mempunyai rambu-rambu moral yang jelas dan tegas. Dalam kondisi ini, dibutuhkan orang baik. Namun, orang buruk bisa saja menjadi pemimpin. 

Syukur kalau naik pemimpin yang baik. Jika tidak baik, maka hanya jadi penguasa yang tidak berpihak pada rakyat. Inilah yang merisaukan dan memalukan. Jangan diharap bangsa ini maju jauh, tapi bisa mundur dan membuat harga diri bangsa merosot dan terinjak-injak.

Indak alu se alu nangko
Alu tasanda dakek kain
Indak malu samalu nangko
Nagari diatur orang lain 

Bayangkan garam yang biasanya Rp 1.000 per bungkus sekarang sudah jadi Rp 3.000 per bungkus. Ini adalah suatu pembodohan yang luar biasa. Supaya malu bisa menjadi budaya mari kita renungkan ayat Allah berikut ini: Allah berfirman “Setiap yang bernyawa akan meraskaan mati, hanya kepada kamilah kamu kembali” (QS. Al-Ankabut 29:57).

Supaya kita tidak malu di dunia ini dan tidak menyesal di akhirat, maka jadilah orang-orang yang cerdas. Syarat utama menjadi orang-orang yang cerdas yaitu banyak-banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan baik. Kita mesti banyak mengingat mati, pikiran dan perasaan kita pasti menuju pada langkah-langkah kebaikan  dan kebenaran.

Mati bukan suatu bencana, melainkan pelajaran penting bagi yang masih hidup agar berbuat lebih arif dan bijak. Setiap kita harus merindukan surga karena rezeki yang paling mulia itu adalah surga. Kita harus merindukan wajah Allah karena inilah puncak kenikmatan dari surga. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Tabir Gelap Kasus Munir

Distribusi Elpiji 3 Kg Belum Stabil