in

Idul Fitri Membuahkan Kedamaian

Sebagian masyarakat Indonesia karena masalah sepele tidak jarang berbuat kekerasan dan anarki. Oleh karena itu, Idul Fitri harus bisa membuahkan kedamaian.

JAKARTA – Idul Fitri diharapkan dapat menyebarkan energi positif dalam membangun keadaban diri dan lingkungan sosial. Itu diwujudkan dengan membangun perilaku individu dan sosial yang membuahkan kebaikan, kedamaian, permaafan, ketulusan, solidaritas sosial, serta hubungan antarsesama yang saling menebarkan adil dan ihsan.

“Kami sungguh prihatin dengan rusaknya hubungan sosial di tubuh bangsa ini. Sebagian orang di negeri ini karena soal-soal sepele tidak jarang berbuat kekerasan dan anarki,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam pesan tertulis Idul Fitri yang diterima, di Jakarta, Jumat (23/6).

Melalui media sosial, kata Haedar, lahir ujaran-ujaran yang kotor, buruk, tidak patut, serta menyebarkan kebencian dan permusuhan.

Kehidupan sosial pun masih diwarnai penyimpangan perilaku. Tidak hanya itu, masyarakat saat ini tengah diancam oleh ganasnya narkoba, miras, pornografi, kekerasan, terorisme, kejahatan seksual, dan pengaruh buruk teknologi elektronik. Ini yang menjadi beban berat bangsa.

Sebagian orang, tambah Haedar, dengan mudah melenyapkan nyawa sesama, seolah harga manusia begitu murah. Ruang publik pun serba bebas.

Sehingga atas nama demokrasi dan hak asasi manusia tidak sedikit yang berbuat sekehandaknya dan melanggar norma-norma moral dan agama.

Nilai-nilai kasih sayang, persaudaraan, dan sopan santun yang selama ini menjadi karakter bangsa Indonesia mengalami peluruhan karena terkalahkan oleh hasrat rebutan kepentingan, konflik, dan perangai menerabas.

Tidak jarang dari dunia politik diproduksi suara keras, yang kerap menebar benih konflik, dan berbagai transaksi curang yang melanggar norma agama, moral, dan hukum. Politik yang semestinya dibingkai moral dan agama menjadi serba boleh hingga menghalalkan segala cara.

Perilaku ekonomi sebagian pihak pun tak kalah buruk demi mengejar kepentingan yang sebesar-besarnya dengan mengorbankan kepentingan orang banyak.

Perilaku Mulia

Keadaban yang berbasis al-akhlaq al-karimah, kata Haedar, yang mengedepankan sikap hidup yang benar, baik, dan patut serta menjauhi perilaku yang salah, buruk berdasarkan nilai-nilai luhur agama dan kearifan budaya bangsa.

Manusia beriman pasca puasa dan Idul Fitri harus berhasil menampilkan perilaku mulia.

Mulia dalam berpikir, berkata, bersikap, dan bertindak naik untuk diri sendiri maupun untuk sesama dan lingkungan semesta.

Gereja Katedral Kristus Raja di Kota Bandarlampung mengubah jadwal misa pada Minggu (25/6) pagi, guna menghormati umat Muslim yang akan melaksanakan salat Idul Fitri 1438 Hijriah.

“Kami pihak gereja telah mengumumkan kepada umat Nasrani, bahwasannya jadwal misa diundur,” kata Koordinator Bidang Martiyria Gereja Katedral Kristus Raja, FX Budi Nuryanto, di Bandarlampung, Jumat.

Budi mengatakan pengunduran jadwal misa itu sebagai bentuk hormat dan toleransi antarumat beragama, sehingga waktu misa pagi akan dilaksanakan pukul 09.30 WIB. Letak Gereja Katedral berdekatan dengan Masjid Taqwa, yang biasanya saat salat Idul Fitri sebagian badan jalan di depan gereja ikut terpakai.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (KAS), Romo Aloys Budi Purnomo Pr, mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Semoga ibadah puasa selama bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri ini membawa berkah bagi masyarakat dan bangsa Indonesia serta masyarakat dunia.

“Seiring dengan berakhirnya ibadah puasa umat Islam di bulan suci Ramadan dan datangnya kemenangan di hari raya Idul Fitri 1438 Hijriah, atas nama Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko, kuria, umat,

dan Gereja Katolik KAS, saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1438 Hijriah kepada para ulama, pemimpin dan seluruh umat Islam di Indonesia,” kata Romo Aloys Budi Purnomo Pr.

Pengamat politik Timur Tengah, Tia Mariatul Kibtia, mengatakan kalau hanya mengandalkan Idul Fitri saja sebagai momentum untuk mempererat anak bangsa maka akan sulit.

“Karena setelah Idul Fitri, hate speech akan kembali terjadi. Saling hujat dan merasa benar sendiri (terjadi). Karena saat ini, radikalisme di Indonesia tengah menguat,” kata Tia.

Salah satu cara untuk melawannya, ujar Tia, harus memberikan tempat bagi para ulama besar dan cinta damai, serta ulama yang memperkuat ukhuwah islamiyah untuk mengisi kembali masjid-masjid yang selama ini dikuasai kelompok radikal. ags/SM/eko/N-3

What do you think?

Written by virgo

Bagikan Zakat, Bupati Muba Berbagi Kebahagiaan

Penerima Bidikmisi Itu Ingin Menjadi Diplomat