in

Labuan Bajo, Flores. Keberangkatan

Suatu hari, kamu akan terganggu oleh keinginan-keinginan kamu. Sampai kamu tidak berhasil bernegosiasi; mewujudkan keinginan kamu atau mempertimbangkan situasi dan kondisi. Dan, enggak ada yang salah dengan mewujudkan keinginan. Barangkali, kehidupan terbuat dari keinginan ke keinginan.

Hemn…saya hanya membutuhkan waktu dua hari untuk memutuskan pergi atau tidak ke Flores, di tahun ini. Saya tahu, saat ini adalah situasi yang sulit. Pandemi Covid-19 masih bergulir dan kita tidak pernah tahu kapan situasi pandemi ini berakhir. Saya mengajak beberapa teman yang gemar melakukan perjalanan, berharap untuk tidak bepergian sendiri ke Flores. Terus terang saja, saya tidak terlalu berani pergi ke Flores sendiri. Saya selalu berfikir bahwa, Flores itu jauh sekali. Dan, sepertinya membutuhkan biaya yang mahal untuk berwisata.

Tetapi keinginan untuk bepergian ke Flores selalu mengganggu, salah satu topik yang selalu saya tawarkan ke beberapa orang agar mendapatkan teman di perjalanan. Saya gagal. Minggu pertama di bulan Oktober, saya memutuskan untuk berangkat. Sendiri. Ini adalah perjalanan pertama yang saya lalui dimana sepanjang perjalanannya saya diliputi perasaan cemas, takut tapi bergairah untuk melakukannya. Saya tidak bisa tidur pada malam sebelum perjalanan, dan terbangun menjelang dua jam keberangkatan pesawat. Sepanjang perjalanan ke bandara saya memaki diri sendiri dalam hati, sebab telah ceroboh mengabaikan bunyi alarm.

Tuhan bersama perempuan lajang diusia 30+ 😀 saya tiba di bandara dengan waktu yang cukup untuk melakukan seluruh prosedur keberangkatan tanpa berlari-lari. Saya mendapatkan waktu yang cukup untuk mendapatkan segelas teh dan berkeliling di sebuah toko pakaian yang nyaris akan ke meja kasir untuk membeli sebuah sweater berwarna hijau botol ketika panggilan keberangkatan pesawat ternyata telah diteriakan untuk ketiga kali.

Perjalanan ke Labuan Bajo, ditempuh selama 2 jam 20 menit. Saya sengaja meminta kursi di baris jendela agar dapat melihat pemandangan ke luar, saya menyukai gumpalan awan dan tidak pernah bosan untuk menatapnya dari balik jendela. Untuk satu jam pertama saya memilih untuk tidur, menenangkan diri dan mereka-reka rencana setelah tiba di Labuan Bajo, Flores.

2 jam 20 menit berlalu, jadwal keberangkatan dan kedatangan tepat waktu.

Saya tiba di bandara Labuan Bajo, ketika cahaya matahari cerah. Dari jendela pesawat pada lima belas menit terakhir terlihat hamparan luas laut biru dan gunung-gunung disekelilingnya. Itu adalah pemandangan luar biasa yang saya lihat, Labuan Bajo ada di depan mata. Untuk tujuh tahun merencanakan perjalanan ke Bajo, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

What do you think?

Written by Julliana Elora

Harkat Bangsa Papua

Polres Langsa Ciduk Tiga Tersangka Pemilik 1 Kg Sabu