in

Menelusuri Kehidupan Al Ikhwan Yushel, Putra Agam Buronan Militer Filipina

Dikenal Penyantun, 2 Bulan lalu Tinggalkan Kampung

Nama Al Ikhwan Yushel, 26, warga Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumbar, tiba-tiba saja jadi buah bibir. Menyusul, penetapan dia menjadi salah seorang buronan Pemerintah Filipina. Siapa dia?

Sekujur badan YM gemetar. Sudah dua hari puasa dilaluinya tanpa sahur dan berbuka. Nasi dimakan terasa sekam, air diminum terasa duri. Di samping penyakit asma yang dideritanya sejak beberapa tahun belakangan, kabar tak sedap itu membuat kondisinya makin lemah. Kini, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) itu berjuang menerima kenyataan. 

Hal itu bermula ketika Iwan -sapaan akrab Al Ikhwan Yushel- anak ketiganya, ditetapkan militer Filipina jadi buronan. Dia diduga terlibat dalam penyerangan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) terhadap Kota Marawi. “Kami sudah pasrah. Sama sekali tidak pernah terbesit dia bergabung dengan teroris. Kami masih tidak percaya,” tutur YM.

Dijumpai Padang Ekspres di kediamannya, Jumat (2/6), YM yang didampingi wali jorong setempat, AY menyebut, dia mendapat kabar dari Iwan terakhir kali pada akhir Maret lalu. Rumah kediaman YM yang dicat putih itu juga tampak seperti biasanya. Tetangga juga masih hilir mudik di sekitar rumah itu, seolah tidak ada kabar apa-apa. 

Iwan biasanya lebih sering berkomunikasi via telepon seluler dengan kakak sulungnya yang bekerja di Lubukbasung. “Kakaknya bilang ke saya, Iwan baik-baik saja dan dagangannya laris. Dia hanya titip salam saja, setelah itu tidak ada lagi kabar. Iwan juga tidak bisa lagi dihubungi,” terang YM.

Ditanyakan kehidupan sehari-hari anaknya yang tamatan SLTA itu, YM tak kuasa membendung bulir airmata. Iwan disebut-sebut sosok anak yang berbakti kepada kedua orangtua, ramah kepada warga dan rajin beribadah. “Sejak tamat sekolah dia gigih berusaha demi membantu keluarga. Kalau ingin kenal siapa Iwan silakan tanya seluruh penduduk di sekitar sini,” imbuhnya meyakinkan awak media.

AY menambahkan, usai tamat sekolah Iwan sempat menetap di kampung halaman. Layaknya pemuda pada umumnya, dia menekuni usaha beternak ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau. Setelah itu, Iwan meminta izin orangtuanya untuk berdagang buah di Kota Bukittinggi. Sebulan kemudian, usahanya berkembang. Setelah memiliki modal yang cukup, Iwan lalu meminta izin untuk merantau ke Pulau Jawa.

“Sampai di Bogor, Iwan mengabarkan dirinya berjualan susu murni. Bisnisnya terbilang sukses. Dalam tempo dua jam, dagangannya dapat menghasilkan uang Rp 60.000. Begitu cerita Iwan yang terakhir kali kami dengar,” sebut AY.

Iwan diketahui berangkat ke Filipina pada akhir Maret lalu. Pemuda kelahiran Palembayan, 1 November 1991 itu juga sempat meminta dibuatkan surat pengantar pengurusan Kartu Tanda Penduduk kepada AY.

“Empat bulan lalu dia minta dibuatkan KTP. Saya yang membuatkan surat pengantarnya waktu itu. Setahu saya, dia baru meninggalkan kampung ini dua bulan lalu. Selama bergaul di sini dia anaknya baik, rajin beribadah, patuh pada orangtua dan ramah. Ketemu di jalan dia selalu menyapa. Karena itu, saya heran mengapa bisa dia dikatakan terlibat teroris. Sempat terpikir apakah dia dijebak atau apa sebabnya,” tutur AY.

Ditanyakan mengenai pergaulan Iwan, AY memastikan tidak pernah melihat ada rombongan atau orang asing yang menemui Iwan di kampung. Pasalnya, warga setempat umumnya bersaudara karib kerabat. Kedatangan wajah asing, sangat mudah dikenali di kampung itu.

“Maramang bulu tangan ambo mandanga kaba ko pak (merinding bulu saya mendengar kabar ini pak), rasa bermimpi di siang bolong. Tidak percaya, kaget saya pak,” ujarnya.

Pascatersebarnya informasi dari media massa, Iwan ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO), masyarakat setempat cukup gempar. Kabar itu cukup cepat berkembang dari mulut ke mulut. Termasuk di Kecamatan Palembayan, daerah kelahiran Iwan.
“Masyarakat hanya berbisik saja, banyak yang tidak tahu nama kepanjangan Iwan. Umumnya, hanya kenal nama panggilan sehari-hari saja. Untuk itu, kami harap jangan dilibatkan masyarakat terutama keluarganya,” pinta AY.

Camat Tanjungraya, Handria Asmi mengimbau warga untuk tidak meresahkan berita ini. Pasalnya, keluarga YM sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang keterlibatan anaknya dengan jaringan teroris di Filipina. “Pemkab Agam juga sudah mendapat informasi ini sebelumnya. Keluarga YM prinsipnya sedang diterpa musibah atas kasus yang menimpa anaknya. Untuk itu, diminta kepada segenap pihak untuk tidak menambah lagi isu yang dapat memicu keresahan warga,” harapnya.

Kepala Dinas Sosial Agam, Kurniawan Syahputra yang juga mantan Camat Tanjungraya semasa YM masih berstatus PNS, juga membenarkan tidak adanya indikasi pemahaman menyimpang dari mantan bawahannya itu. “Tahun 2007 dan 2008 silam, saya sudah mengenal keluarga yang bersangkutan. Anak-anaknya sering dibawa ke kantor camat. Pak YM merupakan pegawai yang ramah dan mudah bergaul. Kami yakin dia telah mendidik anaknya dengan baik,” tutur Kurniawan. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Dua Dus Petasan Disita

Menikmati Ibadah