in

Menelusuri Pulau Pagai Utara dan Selatan Kepulauan Mentawai -4/Habis

Potensi Laut bak Raksasa Tidur

Memiliki ombak besar, alam indah dan laut luas, sejatinya Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki potensi besar di bidang pariwisata, kelautan dan perikanan. Sayangnya, potensi itu belum tergarap.

Hujan membasahi Bumi Sikerei. Penduduk Masabuk, Desa Sikakap Timur, Kecamatan Sikakap, Selasa (6/12) pagi, tetap beraktivitas seperti biasa. Di sebuah kafe terapung, tepatnya bagian belakang Wisma Lestari, beberapa pengunjung asyik ngobrol sambil sarapan. Sesekali perahu nelayan melintas di belakang kafe tersebut. 

Di dekat kafe, terdapat beberapa keramba jaring apung (KJA). Di salah satu KJA itu, seorang pekerja sedang mencari makanan ikannya. Caranya, jala yang sudah dibingkai diturunkan menggunakan katrol ke laut. Apabila ada gerombolan ikan lewat, jala tersebut diangkat ke atas. 

Supri, warga setempat, menyebut KJA itu satu-satunya yang bertahan. Selebihnya sudah berhenti membudidayakan ikan kerapu macan yang sebelumnya sempat naik daun. “Sejak kapal asal Hongkong tidak boleh ke sini, harga ikan kerapu anjlok,” ujar Supri. 

Data yang dihimpun Padang Ekspres, jumlah KJA di Sikakap mencapai 28 unit. Sebagian besar bantuan pemerintah. Sejak sulit mencari pasar dengan harga cocok, semua KJA dibiarkan terbengkalai. Padahal, harga satu unit KJA Rp 200 juta. 

Syafri, nelayan lainnya menceritakan, sejak pasaran kerapu lesu, nelayan hanya menggantungkan hidup dari memancing di laut. Sebagian besar nelayan di Pagai Utara, Selatan dan Sikakap hanya bisa memancing karena ketiadaan kapal untuk melaut. Mereka hanya bisa menyaksikan kapal-kapal penangkap ikan dari Sibolga, Padang, Jakarta mengemasi kekayaan laut mereka. 

Belakangan, menurut Syafri, hasil tangkapan nelayan berkurang  dari waktu ke waktu. Dulu, memancing di pinggir laut saja sudah banyak kerapu dan lobster ditangkap. Kini, melaut ke tengah pun hanya sedikit didapat. 

Sebagian besar nelayan Mentawai masih menggunakan perahu tradisional untuk melaut. “Mana kuat mendayung sampai ke tengah. Lagi pula terlalu berisiko,” ujar Syafri.

Dulu ketika kapal Hongkong masih diperbolehkan masuk, perekonomian masyarakat sempat terangkat. Dari KJA bisa menjual kerapu macan Rp 90 ribu per kg, janang hitam dan janang merah Rp 120 ribu per kg. Dalam setahun, kapal Hongkong datang tiga kali dan bisa membawa satu ton ikan dari masing-masing keramba. 

Efeknya, harga jual kerapu dari nelayan ke pemilik keramba juga tinggi. Sehari nelayan bisa mendapat Rp 500 ribu dengan menjual  ikan kerapu hidup ke pemilik keramba. “Sekarang, ikan kerapu hanya bisa dijual dalam kondisi mati. Harganya anjlok. Jadi, tidak ada yang mau membudidayakannya lagi,” jelasnya.

Elly, warga Sikakap yang juga pemilik keramba, sangat berharap pemerintah mencarikan pasar bagi budidaya ikan kerapu.

“Masyarakat dikenalkan dengan budidaya kerapu, diberi bantuan keramba, lalu pasarnya dimatikan. Harusnya, begitu bantuan diberikan, bantuan bibit, pakan dan pasarnya juga diberikan. Untuk apa keramba itu hanya terapung-apung di lautan,” kritiknya. 

Kini, kerapu hasil tangkapan nelayan hanya dijual dalam kondisi mati dan dikirim menggunakan fiber ke Padang. “Jika dalam kondisi hidup, harganya Rp 90 ribu per kg, sekarang dijual dengan harga mati Rp 25 ribu per kilo. Akibatnya, banyak warga alih profesi jadi tukang dan kerja serabutan lainnya,” ujarnya. 

Harusnya, harap dia, pemerintah fokus mencarikan investor guna mengelola sektor kelautan di Mentawai. Seperti, investasi kapal, keramba dan sektor perikanan lainnya. Selain itu, masyarakat juga diajarkan cara menangkap dan budi daya ikan.

“Investasi di bidang kelautan ini menurut saya sangat menjanjikan, namun orang-orang belum meliriknya,” ujarnya.

Benny, salah seorang staf dari Badan Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, yang ditugaskan memberikan supervisi di Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Pagai Selatan menceritakan, Mentawai memiliki potensi besar untuk berkembang di bidang kelautan dan perikanan. Yang paling besar potensinya adalah ikan karang, seperti kerapu dan janang, lobster dan ikan lainnya. 

Dia menilai perairan Mentawai masih terbilang bersih dan jernih. Sangat menunjang keberlangsungan hidup ikan. Syaratnya, kehidupan di darat juga harus dijaga. Jika ada penebangan hutan secara masif, bisa memicu longsor di badan sungai sehingga menyebabkan air laut keruh. 

“Jaga alam Mentawai dan garap potensi lautnya dengan maksimal. Mumpung belum terlambat, saran saya kembangkan potensi laut. Semua ini adalah investasi besar tanpa merusak alam,” ujarnya. 

Pengamat perikanan dan kelautan dari Universitas Bung Hatta (UBH), Dr Eni Kamal memaparkan, letak geografis Mentawai yang dianugerahi pulau kecil, membuat Mentawai memiliki sumber daya alam produktif seperti terumbu karang, lamun, mangrove dan dataran pasir. Kemudian, cocok sebagai penyedia jasa lingkungan, lewat keindahan alamnya. 

Dia menyarankan pemanfaatan pulau-pulau kecil perlu dibatasi dan diprioritaskan untuk konservasi, ekowisata, perikanan budidaya terbatas, riset/penelitian dan basis industri perikanan skala kecil. Sehingga, keberadaan pulau-pulau kecil bisa bertahan.

Terkait ancaman gempa dan tsunami, menurut dia, diperlukan tindakan mitigasi bencana dalam pengelolaannya. Dia juga menyarankan di wilayah pesisir yang ekosistemnya sudah rusak direhabilitasi guna mendukung kehidupan biota laut dan manusia. 

”Masyarakat yang berdomisili di kawasan rawan bencana dapat diberdayakan melalui program identifikasi potensi bencana, early warning system, tanggap darurat, mengembangkan teknologi sistem peringatan dini dan mitigasi bencana, serta rehabilitasi ekosistem,” papar Eni Kamal dalam Semiloka Pengembangan Pesisir Pulau-pulau Kecil dan Kehutanan Kepulauan Mentawai, di Padang, beberapa waktu lalu. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by virgo

Menyorot Normalisasi Danau Maninjau

Deputi Bakamla Minta Fee Rp 15 M