in

Optimalkan Anggaran untuk Bangun Ketahanan Pangan

Produk Dalam Negeri I Pemerintah Sedang Membangun “Food Estate” di Kalimantan Tengah

» RI mesti meniru India dan Tiongkok yang menerapkan mekanisasi untuk memacu produktivitas.

» Petani harus dibantu mendapat akses modal kerja agar tidak terjebak pinjaman dari tengkulak.

JAKARTA – Pemerintah diharap­kan mengoptimalkan anggaran sebesar 104,2 triliun rupiah yang dialokasikan dalam Rancangan Anggaran Pendapat­an dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 untuk membangun ketahanan pangan. Optimalisasi anggaran tersebut bukan hanya diukur dari kemampuan penye­rapannya, tetapi yang paling penting adalah output-nya, terutama dalam me­minimalkan impor pangan.

Pengajar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Sema­rang, Esther Sri Astuti, mengatakan ang­garan yang cukup besar itu harus berban­ding lurus dengan hasil yang dibangun.

“Parameternya jelas, setelah memba­ngun lumbung pangan, kita sudah tidak mengimpor pangan lagi, seperti beras, gandum-ganduman, gula, biji/buah ber­minyak, susu, telur, mentega, buah-buah­an, makanan olahan, serta daging dan bi­natang hidup. Jangan sampai anggaran itu salah urus dan tak berbekas,” kata Esther.

Sebelumnya dalam penyampaian Nota Keuangan Negara ke DPR pada Jumat (14/8), Presiden Joko Widodo (Jokwi) mengatakan anggaran ketahanan pangan 104,2 triliun pada 2021 diarahkan untuk mendorong produksi komoditas pangan dengan membangun sarana pra­sarana dan penggunaan teknologi.

Selain itu, anggaran ketahanan pangan akan dipergunakan untuk revitalisasi sis­tem pangan nasional dengan memperkuat korporasi petani dan nelayan, distribusi pangan, serta pengembangan kawasan pangan berskala luas atau food estate guna memacu produktivitas pangan.

Pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan dengan menargetkan Nilai Tu­kar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang idealnya berkisar 120.

Saat ini, pemerintah tengah mengem­bangkan kawasan food estate di Kaliman­tan Tengah, dan pada tahap awal, me­lakukan intensifikasi lahan seluas 30.000 hektare (ha). Presiden menekankan pen­tingnya memperkuat pangan dengan memperkuat dari hulu ke hilir yang akan diuji coba pada food estate yang dibangun.

Food estate sedang dibangun untuk memperkuat cadangan pangan nasio­nal, bukan hanya di hulu, tetapi juga bergerak di hilir produk pangan indus­tri,” kata Kepala Negara.

Akses Modal

Lebih lanjut, Esther mengatakan tekad Presiden tersebut harus dimaknai jajaran menterinya dengan langkah tak­tis membangun ketahanan pangan de­ngan mengusahakan pangan bukan dari impor tetapi dari Tanah Air sendiri.

“Peringatan 75 tahun kemerdekaan RI harus menjadi momentum bagi pemerin­tah untuk membangun ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan,” tegas Esther.

Dia juga mengimbau pemerintah un­tuk meniru Tiongkok dan India dalam upaya mengurangi impor pangan. Kedua negara tersebut lebih banyak menerap­kan mekanisasi pertanian, sehingga me­ngurangi biaya produksi petani dan di sisi lain produksi tiap lahan meningkat.

“Melalui mekanisasi kedua nega­ra itu berhasil meningkatkan kapasitas panennya, meningkatkan produktivi­tas tenaga kerja, mengurangi kerugian pascapanen, meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi impor beras di negaranya,” kata Esther.

Untuk itu, pemerintah, tambahnya, mesti membantu petani mengakses kre­dit untuk modal kerja agar tidak ditekan tengkulak, meningkatkan skill petani menggunakan mesin-mesin pengolah serta membantu menyediakan keter­sediaan pupuk dan alat pertanian.

“Masih banyak titik lemahnya. Ra­ta-rata produksi petani beras hanya berkisar 5 ton per hektare, sedangkan pabrik beras hanya bisa membeli da­lam skala besar sekitar minimal 20 ton. Akses petani ke pasar juga terbatas. Pe­tani juga tidak punya modal yang cukup untuk menambah kapasitas produksi­nya. Belum ditambah dengan luas lahan yang sempit,” kata Esther.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menyatakan sektor pertani­an menjadi salah satu sektor yang tidak terdampak oleh pandemi Covid-19, ma­lah tumbuh positif dan jadi penyelamat ekonomi tidak terkoreksi lebih dalam.

“Kementerian Pertanian selalu mem­bantu petani, peternak, serta masyarakat yang butuh dukungan di masa pandemi seperti saat ini, baik bantuan benih, pu­puk, alat mesin pertanian, fasilitas dana Kredit Usaha Rakyat (KUR), asuransi per­tanian dan pendampingan teknologi ma­sif dilakukan,“ jelas Kuntoro. n ers/E-9

What do you think?

Written by Julliana Elora

Lemkari OKU Raya Gelar Kenaikan Sabuk

Sektor Manufaktur Mulai Mendekati Posisi Ekspansi