in

Sejarah Ringkas Peradaban Manusia

Judul : Sapiens
Penulis : Yuval Noah Harari
Penerbit : Alvabet
Cetakan : I, 2017
Tebal : 513 Halaman

Kisah Homo Sapiens suka atau tidak suka memperlihatkan manusia sekarang anggota keluarga besar kera berkerabat simpanse, gorila, dan orang utan. Demikian asal-usul manusia menurut Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens ini. Bagi sebagian orang, terutama dengan referensi dan perspektif teologis tertentu, hal demikian tentu dianggap cukup nyeleneh, bahkan tidak sedikit yang menganggapnya sebuah kesesatan.

Namun, tidak bagi ilmu pengetahuan, terutama arkeologi. Jejak berupa fosil yang ditemukan tersebar di berbagai belahan dunia menghasilkan rekonstruksi spekulatif bahwa manusia purba memiliki beragam spesies yang berbeda secara fisik.

Manusia pertama kali berevolusi diperkirakan di Afrika Timur sekitar 2,5 juta tahun lalu dari satu genus kera lebih awal yang dinamakan Australopithecus atau “kera selatan”. Lima ratus tahun kemudian, sebagian dari mereka yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, pindah ke Afrika Utara, Eropa, dan Asia. Kondisi alam yang berbeda di tiap wilayah, mengakibatkan mereka berevolusi menyesuaikan kondisi alam (halaman 7).

Manusia-manusia Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo Neanderthalensis. Fisik mereka lebih gempal dan berotot sehingga mampu beradaptasi dengan baik dalam iklim dingin Eurasia Barat pada zaman es. Di Pulau Jawa, ada Homo Soloensis yang cocok untuk iklim tropis. Di Flores, ada Homo Florensis yang badannya kerdil karena kekurangan pangan akibat kondisi pulau tersebut.

Di Goa Denisova Siberia ditemukan fosil tulang jari Homo Denisova. Ada juga Homo Rudolfensi, dan Homo Ergaster. Kemudian, Homo Sapiens yang telah menghuni 150.000 tahun lalu di Afrika Timur mengalami revolusi kognitif. Mereka memenangkan pertarungan dengan berbagai spesies lain dan menjadi satu-satunya bertahan hingga kini.

Sapiens kemudian menjadi puncak mata rantai makanan dan menjadi spesies paling mematikan dalam sejarah planet bumi. Mereka jenis paling mampu beradaptasi dalam lingkungan beragam habitat. Jika pada spesies lain revolusi terjadi pada fisik, maka otak sapiens berkembang menaklukan lingkungan sekitar.

Misalnya, 45.000 tahun lalu, Sapiens yang hidup di Kepulauan Indonesia mengembangkan masyarakat pelayaran pertama. Mereka membangun kapal-kapal dan mengendalikan di lautan lepas. Mereka menjadi nelayan, pedagang, dan penjelajah (halaman 75).

Selama 10.000 tahun lalu, Sapiens kemudian revolusi agrikultur. Mereka tidak lagi berburu setiap hari, mulai menghabiskan waktu untuk memanipulasi kehidupan beberapa spesies binatang dan tumbuhan. Mereka menabur benih, menyirami tanaman, menyiangi rumput, dan menggiring ternak ke padang rumput (halaman 91).

Melalui revolusi kognitif, Homo Sapiens menjadi semakin istimewa. Mereka bekerja semakin teratur, meski dengan orang asing. Kelak mereka menemukan uang sebagai alat tukar dan penentu nilai jual suatu barang. Mereka mengembangkan teknologi hingga melahirkan revolusi saintifik.

Revolusi saintifik ditandai dengan pendaratan manusia di Bulan pada 20 Juli 1969 dan uji coba bom atom pertama pada 16 Juli 1945 di Amerika Serikat. Ini diyakini bukan hanya mampu mengubah alur sejarah, tpi juga mengakhirinya (halaman 294–295).

Pengaruh Darwinisme dengan teori evolusinya kentara dalam buku ini. Tentu tidak semua orang sependapat dengan uraian buku.  Diresensi Noval Maliki, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

What do you think?

Written by Julliana Elora

Siaga Bencana

8 Negara yang Lahir Dari Hasil Memisahkan Diri