Beranda Nasional Setop Impor agar Rakyat Mencintai Produk Lokal

Setop Impor agar Rakyat Mencintai Produk Lokal

74
0
BERBAGI

» Kalau terus mengandalkan impor, sama dengan menolong negara lain, tapi rakyat kita dibiarkan mati.

» Aku cinta produk Indonesia jangan sekadar slogan, tetapi harus dijalankan dengan serius.

JAKARTA – Ajakan Presiden Joko Widodo untuk membeli produk pertani­an, perikanan, dan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam negeri semestinya disikapi dengan bijak oleh jajaran pembantunya dengan mu­lai mengurangi bahkan menyetop impor produk yang tersedia atau bisa dipro­duksi dalam negeri.

Sebab, ajakan tersebut hanya akan menjadi wacana jika dalam praktiknya, impor beberapa komoditas pangan, se­perti gandum, buah-buahan, gula, dan makanan olahan terus membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah dibanding produk lokal.

Demikian kesimpulan pendapat Eko­nom dari Universitas Atma Jaya Jakarta, YB Suhartoko, dan Pakar Ekonomi dari Universitas Brawijaya, Malang, Munawar Ismail, yang dikonfirmasi terpisah dari Jakarta, Minggu (9/8).

Keduanya sepakat, ajakan tersebut perlu didukung untuk memperkuat kon­sumsi domestik agar perekonomian In­donesia terhindar dari resesi. Jajaran pe­merintah dari jajaran menteri hingga ke level bawah harus diwajibkan menjalan­kan ajakan tersebut.

“Di Prancis minusnya sampai belasan persen. Kalau kita tetap mengandalkan im­por, nasib Indonesia bisa sama. Kalau terus impor, selain neraca perdagangan kita ne­gatif, dalam kondisi seperti ini sama saja menolong orang lain, sementara orang di sekitarnya dibiarkan mati,” kata Munawar.

Agar kontraksi ekonomi tidak ter­lalu dalam, pemerintah, jelas Munawar, perlu mewajibkan belanja lokal, mulai pusat, provinsi, daerah, sampai pemerin­tahan desa, termasuk BUMN dan BUMD semuanya. Setelah itu, pejabat dan ke­luarganya memberi contoh.

Sementara itu, Suhartoko mengatakan dalam kondisi seperti ini untuk mema­cu perekonomian dengan berharap pada ekspor dan investasi agak sulit. Sebab, negara mitra dagang terbesar Indonesia ekonominya melambat, bahkan resesi, sehingga daya serap turun.

Demikian juga dari investasi sulit di­lakukan terutama dalam kondisi awal lesunya perekonomian para pengusaha, baik dari dalam dan luar negeri umum­nya pro siklus (pro cyclical) ekonomi.

“Ekonomi lesu, mereka juga lesu. Da­lam kondisi semacam ini, pemerintah bahkan intervensi untuk mendorong para pengusaha untuk tetap bertahan di pasar,” kata Suhatoko.

Dalam kondisi perekonomian lesu, pemerintah diharapkan mengonter sik­lus (counter cyclical) dengan meningkat­kan belanja, anggaran defisit, penurunan suku bunga acuan sehingga menimbul­kan efek berganda (multiplier effect).

“Namun demikian, data terakhir me­nunjukkan pertumbuhan pengeluaran pemerintah yang diharapkan malahan ne­gatif. Ini berarti jadi suatu sinyal menurun­nya kemampuan pemerintah meningkat­kan pengeluarannya atau jika pemerintah mempunyai dana yang cukup untuk eks­pansi fiskal, mekanisme implementasi dan penyaluran terjadi hambatan,” katanya.

Peningkatan konsumsi mau tidak mau harus menjadi motor penggerak pertum­buhan. Mengingat pangsa konsumsi ter­hadap PDB yang begitu besar sekitar 58 persen, maka pertumbuhan konsumsi akan memberikan efek yang besar terha­dap pertumbuhan ekonomi nasional.

Produk UMKM

Peningkatan konsumsi diarahkan ke pembelian barang dan jasa yang dihasil­kan UMKM, kata Suhartoko, karena dari sisi jumlah unit usaha, UMKM lebih dari 90 persen di Indonesia. Penyerapan te­naga kerja di sektor tersebut juga sangat besar. Sedangkan pangsa terhadap Pro­duk Domestik Bruto sekitar 60 persen.

“Dengan melihat kondisi ini, jika per­mintaan barang dan jasa UMKM naik, maka penjualan hasil produksi barang dan jasa UMKM juga naik. Dampaknya adalah daya beli masyarakat akan me­ningkat,” jelas Suhartoko.

Permintaan Presiden Jokowi dalam jangka menengah dan panjang, tambah Suhartoko, akan mempercepat pencapai­an visi ekonomi nasional berdikari dalam bidang ekonomi yang selanjutnya berdam­pak pada berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Aku bangga produk Indonesia bukan sekadar slogan, namun perlu diupayakan dengan serius dan terencana secara stra­tegis dan berkelanjutan,” katanya.

Sosialisasi perlu dilakukan sejak usia dini. Lembaga pendidikan dari TK sam­pai perguruan tinggi perlu dilibatkan. Para pengusaha juga harus ambil bagian mengingat potensi permintaan masyara­kat Indonesia cukup besar karena jumlah penduduk yang besar.

Pendapatan Petani

Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada Sabtu (8/8), mengajak masyarakat untuk membeli produk pertanian, perikanan, dan produk usaha mikro kecil dan mene­ngah (UMKM) dalam negeri daripada pro­duk impor. Ajakan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan para pe­tani, nelayan, dan para pelaku usaha kecil.

“Bukan hanya pada penguatan daya beli petani, nelayan dan UMKM, tapi akan menjadi mesin penggerak bagi pertum­buhan ekonomi nasional pada kuartal ketiga 2020 ini,” kata Presiden dalam sam­butan virtual kepada para peserta Kongres Luar Biasa Partai Gerindra yang berlang­sung di Hambalang, Bogor, Sabtu (8/8).

Presiden meminta kerja sama untuk membangkitkan pelaku ekonomi kecil yang sangat terdampak oleh kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19. “Eko­nomi rakyat, ekonomi UMKM itu juga harus kita bangun, bangkitkan. Roda per­ekonomian harus bisa kita gerakan lagi dengan cara apa? Dengan cara membeli produk-produk buatan dalam negeri,” kata Presiden seperti dikutip dari Antara.

Meski demikian, Presiden menekan­kan penanganan kesehatan masyarakat tetap menjadi yang utama saat ini. Na­mun masalah penanganan dampak eko­nomi juga tidak boleh berhenti karena menyangkut kehidupan masyarakat luas.

Pandemi, kata Presiden, telah menye­babkan kontraksi ekonomi yang dalam. Be­berapa negara ekonomi maju produktivita­snya turun cukup dalam. Berdasarkan data terbaru, kata Presiden, pertumbuhan eko­nomi Prancis minus 19 persen, India minus 18,9 persen, Inggris minus 17,9 persen, Uni Eropa minus 14,4 persen, Singapura minus 12,6 persen, dan lain sebagainya.

Kepala Negara mengajak segenap bangsa dan negara untuk terus optimis­tis bahwa Indonesia pasti bisa mengatasi persoalan pandemi Covid-19. Hal itu ka­rena Indonesia adalah bangsa pejuang.

“Semangat inilah yang harus terus kita gelorakan saat menghadapi situasi yang sangat-sangat sulit ini,” kata Presiden.

Sebab itu, Presiden mengingatkan agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. “Ja­ngan sampai kita masuk ke gelombang kedua, second wave yang memperlambat kita untuk pulih kembali. Kuncinya ada­lah disiplin menjalankan protokol kese­hatan,” kata Jokowi. n ers/SB/E-9