in

Pemprov Buka Peluang Ubah Branding

Zuhrizul:Bisa Direvisi Sebelum Diluncurkan

Derasnya permintaan agar mengkaji ulang penetapan tagline “Taste of Padang” untuk branding wisata Sumbar akhirnya direspons Pemerintah Provinsi Sumbar. 

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menegaskan jika ada kabupaten dan kota atau stakeholder pariwisata yang keberatan atau tidak setuju dengan tagline tersebut pihaknya siap berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan konsultan guna mendiskusikan kembali tagline yang tepat. “Tagline itu belum final. Jika ada kabupaten dan kota tidak setuju, bisa didiskusikan kembali,” ujarnya di sela penutupan Tour de Singkarak di Bukittinggi, kemarin. 

Sebetulnya, kata Nasrul Abit tagline itu sudah dibahas sebanyak tiga kali melalui focus group discussion (FGD) melibatkan berbagai pihak hingga ditetapkan bersama pemerintah kabupaten dan kota. Namun demikian diakuinya ada yang tidak hadir dalam kesempatan itu sehingga masih terbuka kesempatan untuk diusulkan diubah. 

Direktur Pusat Studi Pariwisata Universitas Andalas Padang Sari Lenggogeni menyambut baik sikap gentlement Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit yang cepat tanggap dalam merespons reaksi publik terkait derasnya penolakan tagline “Taste of Padang” untuk branding wisata Sumbar.  

“Ini menunjukkan beliau serius dalam membangun pariwisata Sumbar. Mendengar respons publik yang care terhadap pariwisata. Jadi,  Kemenpar atau konsultannya tidak perlu terburu-buru meluncurkan tagline itu karena yang akan menggunakannya adalah Sumbar,” tegas Sari Lenggogeni.

Pakar pemasaran pariwisata jebolan Universitas of Queensland Australia itu menyebutkan, anggap saja dalam beberapa hari ini bagian dari uji publik terhadap tagline dan hasilnya respons publik ternyata lebih banyak negatif.  

“Tadi kami juga komunikasi dengan wagub dan tagline itu masih bisa diubah karena belum diluncurkan. Jadi, lakukan revisi dengan melibatkan seluruh stakeholders pariwisata seperti industri, praktisi, pakar, budayawan, dan lainnya untuk menyepakati bersama tagline yang tepat,” katanya.

Dia mengajak semua pihak berpikir jangka panjang bagaimana branding wisata tersebut bisa mendorong terciptanya hubungan emosional terhadap pasar potensial wisatawan mancanegara  atau yang belum pernah ke Sumbar atau tidak mengenalnya.

“Jadi paradigma berpikirnya di balik, bukan membranding pada mereka yang sudah kenal atau pernah datang ke Sumbar atau Padang. Sebab dari tagline yang dipilih mengarah ke Padang dan taste. Sebarusnya garap pasar potensial yang tujuan akhirnya memperbesar pasar dan mempertahankan kunjungan paaar eksisting,” katanya. 

Praktisi pariwisata M Zuhrizul juga menyambut baik respons dari Wakil Gubernur Sumbar. Menurutnya branding itu masih memungkinkan untuk diubah sebelum diluncurkan. Namun, perlu keaktifan dari Kepala Dinas Pariwisata Sumbar untuk menindaklanjuti respons dari publik dan pimpinan daerah. “Tidak ada yang tidak mungkin, jika pemprov mau memanggil konsultan. Sebab branding sudah menyangkut sentimen kedaerahan,” katanya.

Dia menambahkan jika magnet utama Sumbar adalah alam dan budaya, maka terdapat enam danau, lima gunung, lembah, goa, dan laut dengan pemandangan yang luar biasa indah. 

“Kuliner kita belum bisa dijual. Sebab, seluruh objek wisata di Sumbar baru bisa jual pop mie, mie rebus, mie goreng dan sup ceker kaki ayam di Pantai Padang. Sebetulnya, cukup untuk brand luar negeri Wonderful West Sumatera dan untuk wisatawan nusantara cukup Pesona Sumatera Barat,” kata pengelola Lawang Adventure Park itu. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

What do you think?

Written by Julliana Elora

Menegakkan Wibawa dan Marwah Guru

Risiko Politik Munaslub Golkar